EVALUASI PENGAWASAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR LIMBAH DI KOTA BATAM TAHUN 2016

Air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair. Sebagai salah satu aspek pengendalian pencemaran lingkungan hidup, air limbah memerlukan pengendalian dari sumber. Kegiatan industri maupun domestik memiliki potensi meningkatnya sumber pencemar, seperti: kegiatan kawasan industri, industri pelapisan logam, industri oleokimia dasar, industri elektronik, industri manufaktur lainnya, perhotel, dan lain-lain.

Kepala Bapedal Kota Batam, Ir. Dendi N Purnomo (23/8/2016), menguraikan bahwa berdasarkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kota Batam Tahun 2015 yang telah dilakukan oleh Bapedal Kota Batam bersama Tim Ahli yang diketuai oleh Prof. I Nengah Surati Jaya, salah satu isu pokok yang ada terhadap kondisi lingkungan hidup di Kota Batam adalah ketersediaan air. Air sebagai salah satu unsur kehidupan memiliki peran pokok sebagai siklus daur hidup dalam  setiap organisme, sehingga kecukupannya akan berdampak terhadap keberlangsungan kehidupan. Secara khusus, Tim Ahli menguraikan, bahwa daya dukung saat ini hanya untuk penduduk sebanyak 1,7 juta jiwa. Sedangkan daya dukung air di Kota Batam jika tanpa ada pembatasan pemanfaatan ruang di areal tangkapan air, maka daya dukung air hanya akan dapat mencukupi untuk penduduk sebanyak 1,4 juta jiwa pada tahun 2031. Akan tetapi, jika dilakukan rencana atau program revitalisasi (pengerukan) waduk akan meningkatkan daya tampung air  menjadi 30-40%, sehingga daya dukung air akan mencukupi penduduk sebanyak 1,9 juta jiwa.

Mempertimbangkan potensi air yang perlu dicermati akan daya tampung dan daya dukungnya berdasarkan KLHS, maka Kepala Bapedal Kota Batam, Ir. Dendi N Purnomo, menyampaikan diperlukannya upaya strategis dan untuk kesempatan bagi pelaku usaha/kegiatan hal yang dapat dilakukan adalah efisiensi dan optimalisasi penggunaan air. Misalnya melalui upaya daur ulang (recycle) air limbah untuk kegiatan pembersih toilet, pemanfaatan penyiraman tanaman, dan/atau penggunaan kembali sebagai air bersih setelah proses pengolahan air limbah.

Pada kesempatan yang sama, Dra. Harni Sulistyowati, Kepala Seksi Baku Mutu Direktorat Pengendalian Pencemaran Air Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, menyampaikan bahwa kebijakan peraturan pengendalian pencemaran air bahwa upaya recycle akan berdampak positif mengurangi penggunaan air bersih sehingga biaya penggunaan air yang dikeluarkan pelaku usaha/kegiatan menjadi efisien.

1

Gambar 1. Diagram Prinsip Kebijakan Pengendalian Pencemaran Berdasarkan UU No. 32 / 2009 (Sumber: Harni Sulistyowati, 2016)

Disamping itu, lebih jauh Prof. Tjandra Setiaji, Ph.D, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) menambahkan bahwa air limbah merupakan hal yang dapat dikurangi dengan pendekatan Cleaner Production Technology ‘Teknologi Produksi Bersih’. Sebagai ketua dari Centre for Resource Efficient and Cleaner Production Indonesia (CRECPI), Prof. Tjandra menguraikan lebih lanjut untuk upaya mengurangi air limbah sudah seharusnya dilakukan pada pokok proses kerja (plant or process level), misalnya secara umum pada dekade terakhir perhotelan tengah mengangkat tema green hotel. Pada kegiatan hotel mulai menggunakan air flashing toilet dengan shower satu lubang dan bukan banyak lubang, handuk dapat dipakai lebih dari sehari,  menempel kampaye efisiensi penggunaan air, dan lain-lain.

2

Gambar 2. Contoh Diagram Upaya Pemanfaatan Air Limbah di Hotel (Sumber: Prof. Tjandra Setiadi, 2016)

Sedangkan untuk dunia industri, dua dekade terakhir gencar melakukan efisiensi penggunaan air. Upaya yang dilakukan meliputi mekanisme Reduse, Reuse, dan Recycle (3R). Seperti , di Bandung sebagai kota yang memiliki populasi ratusan kegiatan industri tekstil, kini telah banyak dilakukan upaya 3R, misalnya air limbah setelah pengolahan IPAL digunakan untuk pencucian dan bukan digunakan kembali untuk pencelupan karena kandungan padatan terlarutnya (konduktifitas) yang relatif tinggi.

Senada dengan narasumber yang lainnya, sebagai Praktisi Pengolahan Air Limbah, Ir. Eko Yulianto, menguraikan bahwa proses pengolahan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pada dekade terakhir mulai bergeser ke arah teknologi pemanfaatan air olahan dari IPAL melalui teknologi daur ulang. Teknologi daur ulang ini memiliki peran yang penting dalam upaya efisiensi penggunaan air dan minimalisasi biaya yang dilakukan dari suatu kegiatan/usaha.

3

Gambar 3. Contoh Diagram Proses IPAL (Sumber: Ir. Eko Yulianto, 2016)

Secara lengkap, materi evaluasi ini dapat diminta melalui email: airlimbahdanemisibapedal@gmail.com

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA