Pengomposan

SEKILAS TENTANG PENGERTIAN KOMPOS

Pengomposanadalah : pengolahan sampah organik terkontrol secara biologis melaluiaktivitas mikroorganisme untukmengubah sampah organik menjadi materi seperti tanah yangmendukung keseimbangan lingkungan.

Komposadalah : bagian materi/bahan organik yang telah diuraikan oleh aktivitasmikroorganisme secara sempurna atau hasil peruraian bahan organik secara biologis menjadi bahan yang lebih sederhana dan stabil      (biomasa).

Humus adalah : sebagianmateri/bahan organik yang telah diuraikan oleh aktivitasmikroorganisme.

Sampah Organik adalah limbah padat yang berasal dari  makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) dan sisa dari suatu proses yang berbahan baku dari makhluk hidup. Terdiri atas bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau yang dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, peternakan, pengolahan makanan, dan lain-lain. Relatif mudah membusuk dan terurai dalam proses alami. Komposisi sampah rumah tangga yang bisa di lakukan pengomposan adalah :

  1. 50-60% sampah organik  (bahan kompos) contohnya  sisa makanan, dedaunan, kulit buah dan lain-lain.
  2. 30-40 % sampah non-organik dapat didaur ulangcontohnya botol, gelas, logam, plastik, kertas dan lain-lain
  3. 10 % sampah non-organik tidak dapat didaur ulang contohnya disposable diapers (popok), pembalut wanita, gabus styrofoam, plastik berlapis aluminium foil dan lain-lain

Sampah organik yang layak dikomposkan adalah :

  • Sampah kebun (daun kering, daun hijau, bunga layu, potongan rumput, dan sebagainya)
  • Sampah pertanian (jerami, kulit padi, gulma,dan lain-lain)
  • Sampah peternakan (sisa pakan, kotoran ternak, dan lain-lain)
  • Sampah dapur (sisa makanan, potongan sayuran, kulit buah, ampas juice, ampas teh, ampas kopi, ampas kelapa, kulit telur, dan lain-lain)
  • Sampah pertukangan (serbuk kayu gergajian)
  • Sampah pasar (sisa sayuran, buah busuk, dan lain-lain)

ALUR PENYELESAIAN SAMPAH ORGANIK

ALUR PENYELESAIAN SAMPAH ORGANIK

Potensi pembuatan kompos diantaranya :

  1. Bahannya dihasilkan setiap hari tidak pernah habis dan mudah didapat.
  2. Relatif murah modal
  3. Mudah cara pembuatan karena menggunakan teknologi sederhana
  4. Banyak dibutuhkan oleh semua orang yang gemar bercocok tanam
  5. Produknya relatif awet (bertahan lama) kurang lebih 3 sampai 6 bulan

Sedangkan keuntungan melakukan pengomposan diantaranya :

  1. Pengomposan dapat meneyelesaikan 50 – 60 % dari permasalahan sampah.
  2. Mengurangi biaya pengangkutan sampah ke TPA dan memperpanjang usia TPA
  3. Relatif lebih mudah dilakukan
  4. Menghasilkan produk pupuk yang dapat  menyuburkan tanah dan tanaman
  5. Hemat dan dalam skala besar mempunyai nilai ekonomi dan penyerapan tenaga kerja

Proses Pengomposan

 

Pelaksanaan pengomposan dapat dilakukan dalam  skala kecil/rumah tangga (pada sumber penghasil sampah), dalam skala menengah/kelompok/komunal (Dasawisma/RT/RW/Dusun/Pasar Kecil) dan skala besar (Desa/Kecamatan/ Kabupaten/Kota/Pasar Besar).

Ciri-ciri kompos yang sudah jadi dan siap digunakan diantaranya :

  • Warna kehitaman seperti tanah
  • Berbau seperti tanah
  • Kelembaban 30 – 50%
  • pH berkisar 6,8 – 7,49
  • Suhu berkisar 300C – 350C
  • Mengandung : Nitrogen (≥ 0,40%), Phosphor (≥ 0,10%), Kalium (≥ 0,20%)
  • Bila dimasukkan kedalam air, tidak banyak yang mengambang
  • Apabila digenggam sedikit menggumpal dan remah

Sedangkan pemanfaatan kompos digunakan untuk : media persemaian (campurannya adalah 1 pasir  : 1 kompos), untuk tanaman dalam pot (campurannya adalah 1 tanah : 1 pasir : 1 kompos) dan untuk tanaman di atas tanah (campurannya adalah 1 pasir : 1 kompos /tergantung jenis tanah disekitar tanaman sedalam 10-35 cm)

Saat ini produksi kompos di TPA Telaga Punggur dapat menghasilkan 2 Ton/bulan, di Kec. Sagulung 2 ton/bulan, kompos nursery menghasilkan 1 ton/bulan dan di Pasar Induk lebih kurang 0.5 ton/bulan.

Kompos yang dihasilkan dari pengkomposan skala lingkungan sebagian besar pemanfaatannya untuk pemakaian sendiri. Pengomposan untuk skala lingkungan ini dapat diharapkan mengurangi volume atau timbulan sampah kota yang pengangkutannya ke TPA membutuhkan cost yang cukup tinggi.

  1. Langkah-langkah Pengomposan dengan Teknik Pencetakan dan Pemadatan / skala lingkungan sebagai berikut :
    1. siapkan pewadah / cetakan berupa kotak triplek ukuran 1 m x 1 m x 3 m tanpa alas dan tutup. Sediakan pegangan / tangkai di keempat sudut kotak.
    2. lakukan pemilahan sampah yang bersifat organic dan anorganik
    3. sampah organik dimasukkan ke dalam kotak mencapai ketinggian + 50 cm
    4. lakukan pemadatan dengan menginjak-injak sampah di dalam kotak / cetakan kemudian siram dengan air secara menyeluruh
    5. lanjutkan pengisian kotak cetakan dengan sampah.
    6. lakukan pemadatan sampah setelah kotak cetakan penuh oleh sampah dan siram kembali dengan air
    7. lakukan pembalikan sampah setiap 5 (lima) hari sekali sebanyak 6 (enam) kali dalam waktu 30 hari kompos siap digunakan.

      Composting Skala Lingkungan

komposting skala lingkungan

 

Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam

2. Langkah-langkah pengomposan menggunakan Metode Takakura/Rumah Tangga

Peralatan yang digunakan sangat sederhana sekali seperti keranjang berlubang, bantalan sekam, kardus, kain dan cetok. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kompos yang sudah jadi, inokulan cair dalam sprayer dan sampah organik

Peralatan kompos takakura

pralatan kompos takakura

Persiapan pembuatan kompos metode takakura :

  • Pasang kardus mengelilingi keranjang bagaian dalam
  • Pasang 1 bantal sekam pada alas keranjang
  • Semprotkan inokulen cair pada permukaan kardus dan bantal sekam hingga basah
  • Masukkan kompos matang hingga 1/3 tinggi keranjang

Cara pembuatan kompos metode takakura :

  • Cacah sampah organik sebelum dimasukan kedalam keranjang
  • Masukkan potongan sampah setiap kali menghasilkan dan aduk hingga bercampur dengan kompos yang ada dibawahnya.
  • Pasang bantal ke 2 diatasnya
  • Pasang kain sebelum menutup keranjang
  • Apabila sudah penuh, ambil ½ nya dan masukkan ke dalam karung berpori misalnya karung beras
  • Proses pematangan akan dilanjutkan didalam karung berpori Langkah-langkah penggunaan sampah organik menggunakan biopori.

c. Penanganan sampah organik menggunakan Biopori

Prosedur dalam penanganan sampah organik menggunakan biopori adalah sebagai berikut :

  • Menentukan lokasi
  • Membuat lubang dengan memasukkan alat bor lebih kurang diameter 10 cm atau lebih dan memutar searah jarum jam (dapat diberi air dahulu agar tanah lebih gembur).
  • Alat bor dimasukkan sedalam ±10 cm dan diangkat untuk dikeluarkan tanahnya.
  • Masukkan bor lagi  hingga kedalaman 80 – 100 cm. kedalaman lubang maksimal 100 cm. Kalau kedalamannya lebih dari 100 cm maka cacing-cacing dan organisme pengurai lainnya akan kekurangan oksigen, sehingga tidak dapatbekerja dengan maksimal.
  • Pada bibir lubang dilakukan pengerasan dengan semen atau  potongan pendek pralon (± 20 cm). Hal ini untuk mencegah terjadinya erosi tanah.Kemudian di bagian atas diberi tutup pengaman (bisa dibuka tutup) dan pencegah serangga penyakit  masuk kedalam lubang biopori.

biopori

Cara-cara penggunaan biopori adalah sebagai berikut :

  • Memasukkan sampah organik (sisa dapur, sampah kebun/taman) ke  dalam biopori.
  • Apabila sampah cukup banyak dapat didorong dengan tongkat tumpul, tetapi tidak boleh terlalu padat karena akan mengganggu proses peresapan air ke samping.
  • Biopori kedalaman 100 cm dan diameter 10 cm dapat menampung 7,8 L sampah. Sampah dapur dapat menjadi kompos dalam jangka waktu 15-30 hari, sementara sampah kebun berupa daun  dan ranting bisa menjadi kompos dalam waktu 2-3 bulan.
  • Kompos yang sudah jadi dapat diambil dengan alat bor atau bantuan sendok semen

1

2

Manfaat Kompos

Manfaat Ekonomi:

  • Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah,
  • Mengurangi volume/ukuran limbah,
  • Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan
    asalnya.

Manfaat Lingkungan:

  • Mengurangi polusi udara akibat pembakaran limbah atau sampah,
  • Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan sampah.

Manfaat bagi tanah dan tanaman:

  • Meningkatkan kesuburan tanah,
  • Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah,
  • Meningkatkan kapasitas serap air tana,
  • Meningkatkan aktivitas mikroba tanah,
  • Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen),
  • Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman,
  • Mengurangi pertumbuhan atau serangan penyakit tanaman,
  • Meningkatkan retensi atauketersediaan hara di dalam
    tanah.

Daftar Lokasi Pengomposan Aktif

  1. Pengomposan di TPA Telaga Punggur
  2. Pengomposan di Nurseri
  3. Pengomposan bantuan PGN
  4. Pukesmas Sekupang
  5. Pengomposan SD 007 Sekupang
  6. Pengomposan SMA N 1 Sekupang
  7. Pengomposan SMP N 3 Sekupang
  8. Pengomposan SMP 6 Sei. Panas
  9. Pengomposan SMP 4 Bengkong
  10. Pengomposan SMA 3  Batam Kota

——————————–

DATA PENGOMPOSAN PADA NURSERI KOTA BATAM DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN TAHUN 2015

No Bulan Kompos (kg) Keterangan
1 Januari 565
2 Febriari 500
3 Maret 5,625
4 April 6,250
5 Mei 6,575
6 Juni 6,275
7 Juli 5,980
8 Agustus 8,400
9 September 5,325
10 Oktober 6,800
11 November 6,400
12 Desember 4,250
Total
62,945

Sumber Data : Bidang Pertamanan