Berita Terbaru

Pelatihan Kader Filariasis

JENIS KEGIATAN : Pelatihan Kader Filariasis

LOKASI                    : Puskesmas Tiban Baru

WAKTU                    : Tgl. 03 September 2015, pukul 09.00-12.00 WIB

BERITA/URAIAN   :

Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah pemyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.

Untitled 1

 

Mengingat berbahayanya penyakit ini, maka pemerintah kota batam berkomitmen untuk menjadikan batam bebas filaria. Untuk itu, telah dilakukan upaya pencegahan filariasis melalui kader di seluruh wilayah kota Batam, seperti halnya yang telah dilakukan di wilayah puskesmas Tiban Baru.

Sumber dari : UPT Puskesmas Tiban Baru


PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis)

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan dengan pendekatan proaktif yang melibatkan peserta BPJS, fasilitas kesehatan, dan BPJS Kesehatan dalam rangka memelihara kesehatan peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis, sehingga dapat mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan efektif dan efisien.

Program yang diselenggarakan dengan kerjasama Puskesmas, BPJS, serta masyarakat yang bertujuan untuk mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal. Penyakit kronis yang dimaksud adalah diabetes melitus tipe dua (2) dan hipertensi.

Untitled

Diharapkan kegiatan pelayanan kesehatan melalui upaya Promotive dan Prenvetif dapat dilakukan berkesinambungan guna meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit-penyakit kronis.

Sumber dari : UPT Puskesmas Tiban Baru


UPT PUSKESMAS TIBAN BARU (Posyandu Balita)

JENIS KEGIATAN             : Posyandu Balita

LOKASI POSYANDU         : Tulip II Kelurahan Tiban Lama

WAKTU                                : Tgl. 02 September 2015, pukul 09.00-11.00 WIB

BERITA/URAIAN               :    

Kegiatan Posyandu balita merupakan upaya promotif dan preventif dalam rangka mengedukasi masyarakat hingga masyarakat mampu secara mandiri melakukan upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan balita di lingkungan masyarakat.  Kegiatan posyandu meliputi :

~ Pemantauan Pertumbuhan Balita

~ Deteksi Intervendi Dini Tumbuh Kembang Anak  (SD/DTK)

~ Imunisasi

~ Peningkatan Gizi Balita / Konseling Gizi

~ Pelayanaan Kesehatan Sederhana

Posyabdu

Pada tahun 2015 ini, jumlah Posyandu yang ada di wilayah kerja puskesmas Tiban Baru. Diharapkan peran serta masyarakan dan keaktifan kader terus meningkat guna mewujudkan masyarakat Batam yang mandiri dalam hidup bersih, sehat dan berkeadilan.

 

Sumber : UPT Tiban Baru


PELATIHAN MANAJEMEN BBLR DAN ASFIKSIA TINGKAT KOTA BATAM TANGGAL, 07-10 APRIL 2015

IMG20150407093833

 

Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi sekitar 56% kematian terjadi pada periode yang sangat dini yaitu dimasa neonatal . Sebagian besar kematian neonatal terjadi pada 0-6 hari (78,5%) dan prematuritas merupakan salah satu penyebab utama kematian. Target dari Millenium Developmen Goals (MDG’s) tahun 2015 adalah menurunkan Angka Kematian Bayi menjadi 23 per 1000 Kelahiran Hidup. Sedangkan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012, AKB masih 32/1000 KH. Untuk mencapai penurunan AKB di atas, dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan terdapat 4 strategi utama yaitu meningkatkan akses pelayanan kesehatan yg berkualitas, meningkatkan keterampilan petugas kesehatan, meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan pembiayaan kesehatan masyarakat.

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan merupakan upaya strategi dalam pencapaian penurunan angka kematian bayi, salah satunya dengan kegiatan pelatihan program neonatal pada tingkat desa sampai rumah sakit. Selama 3 (tiga) dari (tanggal 07-10 April 2015) Dinas Kesehatan Kota Batam telah melatih 15 orang tenaga kesehatan dalam manajemen BBLR dan ASFIKSIA .

Diharapkan ilmu yang telah diberikan oeh Narasumber dapat meninggkatkan kapasitas petugas dalam menurunkan Angka Kematian Bayi di Kota Batam .

Angka kejadian dan angka kematian Bayi Baru Lahir akibat komplikasi seperti Asfiksia, Infeksi, Hipotermi, Hiperbilirubinemia masih tinggi, di harapkan Bidan terutama Bidan di Desa sebagai ujung tombak pelayanan yang mungkin menjumpai kasus Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sesuai dengan kompetensi dan fasilitas yang tersedia. Bidan dan perawat yang terampil dan kompeten dalam manajemen BBLR di harapkan dapat menangani kasus BBLR dengan baik dan benar serta dapat menyebarkan pengetahuannya kepada keluarga mengenai penanganan BBLR menggunakan cara yang mudah dan sederhana.

Terkait dengan hal tersebut, Kementrian Kesehatan RI dan Unit Kerja Kelompok Perinatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (UKK Perinatologi IDAI) bekerja dengan beberapa Dinas Kesehatan Propinsi telah menyelenggarakan pelatihan Manajemen BBLR bagi Bidan, Perawat, Dokter, serta dokter spesialis anak menurut tahapannya, telah menunjukan hasil yang menggembirakan karena dengan menggunakan langkah-langkah manajemen BBLR sebagaimana yang tercantum pada bahan bahan belajar pada pelatihan tersebut, para bidan dan perawat mampu dan berhasil menangani kasus BBLR. Pada akhirnya angka kematian neonatal akibat BBLR dapat dikurangi. Berdasarkan uraian di atas maka Dinas Kesehatan Kota Batam bermaksud menyelenggarakan Pelatihan Manajemen BBLR dan Asfiksia.

Menurut WHO, setiap tahunnya sekitar 3 % (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini kemudian meninggal. Di Indonesia dari seluruh kematian balita, sebanyak 38 % meninggal pada masa Bayi baru Lahir (BBL) menurut IACMEG tahun 2005. Sebagian besar kematian neonatal terjadi pada 0-6 hari (78,5%) Dengan penyebab kematian terbesar adalah gangguan pernapasan/asfiksia 35,9%, prematuritas dan BBLR 32,4% dan sepsis 12%. Sedangkan penyebab kematian bayi di umur 7-28 hari adalah sepsis 20,5%, kelainan congenital 18,1%, pneumonia 15,4%, prematuritas dan BBLR 12,8% dan Respiratory Distress Syndrome (RDS) 12,8%.

Dikota Batam angka kematian bayi pada tahun 2013 yaitu 7,28 per 1000 kelahiran hidup, Sedangkan di tahun 2014 terjadi sedikit peningkatan yaitu 8,67 per 1000 KH. Penyebab kematian bayi ini paling tinggi disebabkan oleh asfiksia dan BBLR. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan merupakan upaya strategi dalam pencapaian penurunan angka kematian bayi, salah satunya dengan kegiatan pelatihan program neonatal pada tingkat desa sampai rumah sakit.. Pengetahuan dan keterampilan Perawat, Bidan dan dokter tentang manajemen BBLR dan Asfiksia sangat penting dalam upaya melakukan tatalaksana yang tepat dalam memberikan Asuhan pada Neonatal umumnya dan kasus BBLR khususnya, maka Pelatihan Manajemen BBLR dan Asfiksia ini diselenggarakan.

Sumber Bidang Promkes Seksi Kesga


PELATIHAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) KOTA BATAM TAHUN 2015 Tanggal 9 s/d 15 Maret 2015

IMG20150309085557

Salah satu metode yang dikembangkan di dunia untuk perawatan anak yaitu integrated Management of Childhood Illness (IMCI) atau di Indonesia dikenal dengan MTBS. MTBS adalah program intervensi dalam penanganan anak terutama balita yang menggunakan suatu algoritme, sehingga dapat mengklasifikasikan penyakit yang dialami oleh balita, melakukan rujukan secara cepat apabila diperlukan, melakukan penilaian status gizi dan memberikan imunisasi kepada balita yang membutuhkan.
Program MTBS merupakan suatu pendekatan balita sakit yang dilakukan secara terpadu dengan memadukan program promosi, pencegahan dan pengobatan terhadap 5 penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita pada Negara berkembang yaitu pneumonia, diare, campak, malaria serta malnutrisi.
Hingga akhir tahun 2009, penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi, namun belum seluruh puskesmas mampu menerapkannya karena berbagai sebab seperti belum adanya tenaga kesehatan di puskesmas yang sudah terlatih MTBS, sudah ada tenaga kesehatan terlatih tetapi sarana dan prasarana belum siap serta belum adanya komitmen dari pimpinan puskesmas dan penyebab lainnya.
Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS apabila memenuhi criteria seperti sudah melaksanakan (melakukan pendekatan memakai MTBS) pada minimal 60 % dari jumlah kunjungan balita sakit di puskesmas tersebut. Untuk dinas kesehatan kota Batam sudah mengadakan pelatihan MTBS ini beberapa kali namun belum semua puskesmas bisa dilatih dan petugas yang sudah dilatih kadang dipindah tugaskan ke tempat yang baru sehingga program MTBS tidak dilaksanakan secara optimal.
Pada tahun 2015 ini tenaga kesehatan yang telah dilatih sebanyak 15 orang yang terdiri dari 5 orang, bidan/perawat 10 orang. Dengan demikian jumlah tenaga yang telah dilatih 15 orang.
NARASUMBER
Adapun Narasumber pertemuan terdiri dari :
a. Dokter Spesialis Anak dari RSUD Embung Fatimah 1 orang
b. Dinas Kesehatan Kota Batam berjumlah 2 orang
c. Clinical Instruktur lokal berjumlah 3 orang

Sumber : Bidang Seksi Kesga