PROFIL KESEHATAN KOTA BATAM

BAB I

PENDAHULUAN

INTRODUCTION

1.1.   LATAR BELAKANG

Pembangunan Kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan penuh komitmen dari berbagai pihak pelaksana pembangunan kesehatan akan mencapai hasil yang diharapkan yaitu meningkatkan derajat kesehatan secara optimal.

Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai dengan pembukaan UUD 1945, pembangunan kesehatan nasional yang dalam pelaksanaannya mengacu kepada SKN 2009 dan Renstra Depkes 2005-2025 sebagai dasar kebijakan pelaksanaan pembangunan kesehatan pada tingkat kabupaten/kota di Indonesia. Berpedoman kepada Sistem Kesehatan Nasional yang terdiri dari 14 program pada dasarnya Kota Batam telah melaksanakan 14 (empat belas) program kesehatan nasional. Pelaksanaan program pelayanan kesehatan dasar yang langsung menyentuh pada masyarakat Kota Batam ada 10 program yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang sehingga peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kota Batam yang setinggi-tingginya dapat terwujud, sementara 4 (empat) program lainnya merupakan program yang tercakup dalam  Bantuan Alokasi Umum (BAU) Pemerintah Kota Batam.

Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan hasil pencapaian dan pemantauan program kesehatan termasuk kinerja mulai dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan minimal dalam bentuk profil kesehatan Kota Batam. Profil kesehatan Kota Batam selalu diterbitkan setiap tahun yang menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat Kota Batam ini memuat berbagai data dan informasi kesehatan yang meliputi derajat kesehatan, upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan. Profil ini juga menyajikan data pendukung lainnya yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, ekonomi, pendidikan dan Keluarga Berencana. Data yang didapatkan diolah dan di analisis dan disajikan dalam bentuk sederhana seperti tampilan tabel, grafik dan  naratif.

Profil kesehatan Kota Batam juga diharapkan dapat digunakan sebagai sarana pemantauan, pembinaan dan pengawasan upaya program dan pelayanan kesehatan Kota, karena sebagian besar masyarakat  Kota Batam baik di mainland  terutama hinterland masih sulit mendapatkan pelayanan kesehatan walaupun dalam skala minimal. Derajat Kesehatan dipengaruhi banyak hal (faktor determinan) diantaranya faktor geografis, demografis, sosial serta budaya serta faktor perilaku. Mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat Kota Batam memerlukan kesadaran yang adekuat perlu proaktif masyarakat, bergandeng tangan dengan instansi terkait  pemerintah kota Batam untuk melaksanakan pembangunan di Kota Batam khususnya dibidang kesehatan. Faktor perilaku sangat berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, untuk tiu upaya meningkatkan pengetahuan, kepedulian dan menumbuhkan kesadaran dan kemauan yang pada akhirnya menumbuhkan sikap untuk berperilaku hidup sehat.

Penyusunan Profil Kesehatan Kota Batam dari tahun ke tahun selalu menuju perbaikan kearah yang lebih baik, pada tahun 2009 ini dalam penampilan profil kesehatan Kota Batam berupa pencapaian program kesehatan yang mengacu kepada program kesehatan nasional  sesuai target dalam Indikator Sehat 2010 dan  Indikator Kinerja berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang dipadukan dalam satu paket, profil kesehatan ini dapat dijadikan sebagai penilaian/evaluasi hasil pencapaian program kesehatan Kota Batam yang aktual serta dasar dan bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan pada masa datang atau perencanaan yang stretegis untuk program yang belum mencapai target yang diharapkan sebagai solusi pemecahan masalah dengan harapan pembangunan kesehatan di Kota Batam selalu meningkat menuju derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

1.2.   TUJUAN

1.2.1. Tujuan Umum

Mendapatkan keadaan gambaran derajat kesehatan masyarakat Kota Batam pada tahun 2009 dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan kemampuan manajemen kesehatan secara efektif dan efisien.

1.2.2.  Tujuan Khusus

  1. Diperolehnya informasi tentang gambaran umum Kota Batam yang meliputi data demografi, geografi, dan sosial ekonomi tahun 2009.
  2. Diperolehnya informasi tentang gambaran situasi derajat kesehatan di Kota Batam Tahun 2009, baik mortalitas, morbiditas dan status gizi  maupun usia harapan hidup masyarakat Kota Batam tahun 2009
  3. Diperolehnya informasi faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan tahun 2009.
  4. Diperoleh informasi tentang perilaku masyarakat Kota Batam yang mempengaruhi derajat kesehatan.
  5. Diperoleh informasi tentang faktor-faktor hereditair khususnya tentang kependudukan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat Kota Batam
  6. Diperolehnya gambaran situasi sumber daya kesehatan berupa sarana dan prasarana di Kota Batam sebagai kekuatan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan di Kota Batam tahun 2009.

1.3.   MANFAAT

1.3.1.  Bagi Dinas Kesehatan

Profil kesehatan merupakan hasil kinerja Dinas Kesehatan dengan unsur-unsurnya dan dinas/instansi terkait dan bermitra baik pemerintah maupun swasta serta seluruh masyarakat Kota Batam yang dijadikan evaluasi sebagai dasar penyusunan perencanaan untuk peningkatan, perbaikan dan pengembangan pembangunan kesehatan di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Batam dimasa depan.

1.3.2.  Bagi Pemerintah Kota

Profil kesehatan dapat dijadikan informasi/bahan bagi stake holder dalam membuat kebijakan untuk pengambilan keputusan dan penetapan konsep pembangunan bidang kesehatan.

1.3.3. Bagi Masyarakat

Masyarakat sebagai sasaran dalam pembangunan kesehatan yang dapat merasakan langsung upaya pembangunan kesehatan, sehingga profil kesehatan ini merupakan informasi atas kegiatan program dan upaya pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Batam dan jajarannya dalam peningkatan mutu program baik pelayanan dasar dan lanjutan.

BAB II

GAMBARAN UMUM KOTA BATAM

BATAM CITY OVERVIEW

2.1.       KEADAAN  GEOGRAFIS

Kota Batam secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu di jalur pelayaran dunia internasional, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004 – 2014, Kota Batam  terletak antara O025’29” —  1015’00” Lintang Utara dan 103034’ 35” —  1040 26’ 04” Bujur Timur. Dengan luas wilayah 3990 Km2 terdiri dari luas wilayah daratan 1040 Km2 dan luas wilayah laut 2950 Km2. Wilayah daratan Kota Batam terdiri dari lebih dari 400 pulau, 329 pulau diantaranya telah bernama, termasuk didalamnya pulau-pulau yang berada pada peripher dalam batasan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatas dengan negara tetangga. Secara geografis Kota Batam berbatasan dengan :

a. Sebelah Utara : Selat Singapura
b. Sebelah Selatan : Wilayah Kecamatan Senayang Kabupaten Kepulauan Riau
c. Sebelah Barat : Wilayah Kecamatan Moro Kecamatan Karimun Kabupaten Karimun.
d. Sebelah Timur : Kecamatan.  Bintan Utara   Kabupaten  Kepulauan Riau

Keadaan geologi wilayah Kota Batam seperti daerah lainnya dalam wilayah paparan kontinental provinsi Kepulauan Riau yang terdiri pulau-pulau yang tersebar merupakan sisa-sisa erosi atau penyusutan dari daratan pra tersier yang membentang dari semenanjung Malaysia dan pulau Singapura pada bagian Utara sampai dengan pulau-pulau Moro dan Kundur serta Karimun di bagian Selatan. Kota Tanjung Pinang yang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Bintan terletak disebelah timur dan memiliki keterkaitan emosional dan kultural dengan Kota Batam. Permukaan tanah di Kota Batam pada umumnya dapat digolongkan datar dengan variasi daerah berbukit-bukit dengan ketinggian maksimum 160 meter diatas permukaan laut. Sungai-sungai kecil banyak mengalir dengan aliran pelan dan dikelilingi hutan-hutan,  semak belukar, hutan bakau yang lebat.

Iklim Kota Batam mempunyai iklim tropis, tahun 2009 suhu minimum berkisar antara 20,0º C – 27,1 º C dan suhu maksimum berkisar antara 32,5 ºC -33,2 ºC, sedangkan suhu rata-rata sepanjang tahun adalah  31,7 ºC – 33,4 ºC. Sedangkan suhu rata-rata sepanjang tahun 2009 adalah 20,4ºC -27,4ºC, dengan keadaan tekanan udara rata-rata minimum 1.001,1 MBS dan maksimum 1.014,4 MBS. Kelembaban udara di Kota Batam rata-rata berkisar antara 79 – 86% dan kecepatan angin maksimum 15 – 30 knot. Jumlah hujan dengan hitungan hari selama Tahun 2009 di Kota Batam adalah 210 hari dan banyaknya curah hujan setahun 2.471 mm dan ketinggian ibukota kecamatan dalam wilayah Kota Batam berkisar antara 2–10 meter diatas permukaan laut.

2.2.       PEMERINTAHAN

Pemerintah Kota Batam sebagai institusi eksekutif yang melaksanakan roda pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan menjadi harapan untuk dapat menjawab setiap permasalahan maupun tantangan yang muncul sesuai dengan perkembangan sosial ekonomi, budaya, politik dan lainnya dalam masyarakat.

Berlakunya Undang-Undang RI No. 53 Tahun 1999, maka Kotamadya Administratif Batam berubah menjadi Kota Batam dan dengan berlakunya   Undang–undang Nomor 25 Tahun 2002, Kota Batam dan Kabupaten/Kota lainnya seperti Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Riau dan Kota Tanjung Pinang menjadi satu kesatuan dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Pemerintah Kota Batam dalam struktur pemerintahannya diatur melalui Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pemekaran, perubahan dan pembentukan Kecamatan dan Kelurahan di Kota Batam yang diberlakukan terhitung mulai tanggal 1 Juni 2006 berisikan, Kota Batam yang awalnya terdiri dari 8 Kecamatan (Kecamatan Belakang Padang, Sekupang, Lubuk Baja, Batu Ampar, Nongsa, Sei Beduk, Galang dan Bulang) dengan 51 Kelurahan, diadakan pemekaran wilayah menjadi 12 Kecamatan dengan 64 Kelurahan.

Pengembangan/pemekaran struktur pemerintahan dalam wilayah kerja menjadi konsep pelayanan kesehatan masyarakat Kota Batam dalam jangkauan/akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang bertujuan untuk pemerataan pelayanan kesehatan baik pembangunan/penyediaan sarana maupun prasarana kesehatan.

2.3. KEPENDUDUKAN/DEMOGRAFI

Dalam penyusunan profil kesehatan tahun 2009 ini, kami menggunakan data kependudukan  pertanggal 1 Januari 2009 yang berjumlah 913.843 jiwa  sebagai perhitungan target/sasaran indikator program Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2009.  Berikut gambaran demografi Kota Batam tahun 2009 dengan berbagai variabel.

Gambar 1.    PROPORSI PENDUDUK BERDASARKAN JENIS KELAMIN

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Population based on gender the Batam city 2009 th years

Sumber : Dinas Kependudukan & Capil Kota Batam

Sources : office of civil records and the city Batam

Jumlah penduduk Kota Batam tahun 2009 adalah 913.843 jiwa dengan rasio penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan. Rasio penduduk laki-laki dan perempuan adalah 1,02 : 1.

2.3.1.  KEPADATAN PENDUDUK

Kepadatan penduduk suatu wilayah sangat berpengaruh terhadap kesehatan, terutama morbiditas pada penyakit-penyakit tertentu, seperti penyakit menular.

Gambar 2.    LUAS WILAYAH DAN KEPADATAN PENDUDUK

MENURUT KECAMATAN DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Dinas Kependudukan & Capil Kota Batam

Sources : office of civil records and the city batam

Kota Batam dengan luas wilayah 1.038.840 Km2 (daratan 1040 Km2) dan jumlah penduduk tahun 2009 berjumlah 913.483 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 0.88 orang/Km2. Dari grafik diatas terlihat penyebaran penduduk tidak merata, penduduk terpadat terdapat di Kecamatan Lubuk Baja (7.89 orang/Km2) dan terkecil di Kecamatan Galang (0.06 orang/Km2).

2.3.2.  Laju Pertumbuhan Penduduk

Dari hasil pengolahan data base penduduk Kota Batam oleh Dinas Kependudukan Kota Batam pada bulan Januari tahun 2009 diperoleh informasi bahwa jumlah penduduk Kota Batam telah mencapai   913.843 jiwa,  maka rata-rata  pertumbuhan penduduk Kota Batam selama tahun 2009 sebesar 8,60 persen. Angka ini sangat dipengaruhi oleh kelompok usia subur yang sangat dominan dari kelompok umur penduduk di Kota Batam dan yang sangat nyata laju pertumbuhan penduduk di Kota Batam sangat dipengaruhi oleh mobilitas penduduk yang cukup tinggi (Batam Dalam Angka, Publikasi 2009).

2.3.3.  Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur

Komposisi umur penduduk sangat diperlukan dalam mengatur strategi perencanaan program kesehatan sebagai upaya-upaya peningkatan derajat kesehatan.

Gambar 3.    DISTRIBUSI PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Total Populations Based On Ages Of Groups For 2009

Sumber : Dinas Kependudukan & Capil Kota Batam.

Sources : office of civil records and Batam City.

Penyajian data komposisi demografi dalam bentuk grafik diatas dapat menggambarkan kelompok umur usia produktif terutama pada usia 20 sampai 39 tahun sangat dominan dibanding dengan kelompok umur lainnya.

Tingginya kelompok usia produktif (usia 15-59 tahun berjumlah 623.514 jiwa) menunjukkan rasio 2,5 artinya setiap orang dalam usia produktif menanggung 2-3 orang.

Kota Batam sebagai daerah industri banyak menyerap tenaga kerja sehingga mempengaruhi mobilitas penduduk baik regional maupun international mengingat Kota Batam merupakan daerah perbatasan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri terhadap status kesehatan masyarakat Kota Batam.

2.4.         SOSIAL – EKONOMI

2.4.1.  Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Tingkat pendapatan suatu daerah dapat diukur antara lain dari pendapatan perkapita, penerimaan pajak bumi atau bangunan (PBB), pendapatan asli daerah (PAD) serta gambaran kualitas tentang keadaan sandang, pangan dan perumahan  serta  tingkat kesejahteraan masyarakat yang akan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

Statistik Pendapatan Regional (Regional Income) antara lain dapat digunakan :

  1. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi daerah
  2. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita
  3. Untuk mengetahui struktur ekonomi
  4. Untuk mengetahui tingkat inflasi dan deflasi untuk mengetahui tingkat kemakmuran yang berarti merupakan cerminan kesejahteraan masyarakatnya.

Laju pertumbuhan ekonomi Kota Batam meningkat dari tahun ke tahun, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi peningkatan sebesar 0.04%. Tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Kota Batam mencapai 7,51% (tahun 2008 : 7.47%). Sebagai salah satu daerah industri pendapatan dari sektor industri mendominasi pendapatan terbesar, diikuti oleh sektor perdagangan, perhotelan dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 4,91 persen (sumber : Batam Dalam Angka Publikasi tahun 2009).

Pendapatan regional per kapita berdasarkan harga yang berlaku (current price), pada tahun 2007 mencapai Rp 33,83 juta dan berdasarkan harga konstan 2006 mencapai Rp 24,54 juta. Angka yang disajikan merupakan angka perbaikan perhitungan PDRB tahun 2006 dan angka sementara perhitungan PRDB tahun 2007. Permasalahan ekonomi merupakan gambaran adanya ketidak seimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemenuhan kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian dapat menyebabkan timbulnya kelangkaan dan beberapa kerugian. Kerugian jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah menurunnya mutu Sumber Daya Manusia (SDM) bahkan hilangnya generasi pada periode tertentu. Menurunnya mutu SDM ini merupakan masalah kesehatan masa lalu yang dialami sejak masa bayi serta masih dalam kandungan, karena tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kekurangan gizi ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sel otak dan kematangan emosional. Masalah ini diperburuk lagi bila dalam kurun usia lima tahun anak tidak pelayanan kesehatan yang baik sehingga menganggu pertumbuhan dan perkembangannya, ia akan kehilangan suatu kesempatan yang tidak bisa terulang lagi, kondisi ini semua merupakan akibat ketidak mampuan orang tua memenuhi kebutuhan gizi anak akibat krisis ekonomi (sumber : Batam Dalam Angka , Publikasi tahun 2009 )

2.4.2.  Regional Income

Perkembangan investasi di Kota Batam sampai dengan tahun 2008 menurut asal investasi berjumlah USD 13.082.310.665 dengan perincian yang berasal dari investasi pemerintah berjumlah USD 2.606.746.746.210, swasta USD 10.475.564.455 meliputi swasta domestik USD 5.710.154.199, dan swasta asing USD 4.765.410.256.

2.4.3.  Persentase Penduduk Miskin

Berdasarkan hasil pendataan Program perlindungan Sosial 2008 Badan Pusat Statistik Kota Batam  hasil verifikasi  didapatkan data yaitu jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) sebagai masyarakat miskin Kota Batam berjumlah 36.207 KK dengan jumlah anggota rumah tangga miskin sebanyak 136.044 jiwa (kuota Batam), dari data Dinas Kependudukan Tahun 2008 jumlah seluruh KK adalah 312.966  yang tersebar di 12 kecamatan, yang berarti  presentase KK miskin di Kota Batam sebesar 11,57% . BPS telah melakukan kegiatan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008 yaitu validasi data masyarakat miskin Kota Batam untuk Program Jamkesmas Kota Batam. Distribusi jumlah rumah tangga layak (KK Miskin) Kota Batam Tahun 2008 dapat dilihat pada grafik berikut ini :

GAMBAR 4.   DISTRIBUSI KELUARGA MISKIN PER KECAMATAN

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber         : BPS Kota Batam Tahun 2008

Source          :

Hasil validasi dan verifikasi data masyarakat miskin Kota Batam dilakukan dengan dua cara yaitu dengan  identifikasi dan intensifikasi yang dilakukan oleh PT Sucopindo dan update data masyarakat miskin yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Batam, ternyata hasil verifikasi data masyarakat miskin Kota Batam berjumlah 154.197 jiwa (ARTS), yang terbagi atas kuota JAMKESMAS 127.732 jiwa (33.408 RTS) dan non kuota JAMKESMAS 26.465 jiwa yang berasal dari SKTM yang real dilapangan, dengan harapan akan menjadi kuota JAMKESDA Kota Batam kedepannya.

2.5.   PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan suatu bangsa. Cerdasnya suatu bangsa akan membawa kesejahteraan bangsa itu sendiri.

Pendidikan merupakan salah satu determinan faktor lingkungan yang berdampak terhadap derajat kesehatan suatu bangsa. Dibidang kesehatan, mengetahui tingkat pendidikan masyarakat diharapkan dapat mengambarkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, pola fikir yang berwawasan kesehatan dan mengadopsi perilaku hidup bersih dan sehat dengan penuh kesadaran yang tinggi, sehingga mempunyai pengaruh positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

Persentase tingkat pendidikan penduduk di Kota Batam tahun 2009  pada kelompok umur >10 tahun, seperti pada gambar berikut, menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan masyarakat Kota Batam adalah tamatan SLTA, sebesar 53,63% dan sebesar 4.09% adalah memiliki tingkat pendidikan sarjana keatas. Dari 795.282 penduduk Batam yang berusia > 10 tahun, masih ada yang tidak/belum pernah sekolah, hal ini menunjukkan bahwa penduduk di Kota Batam masih ada yang belum tersentuh program pendidikan dasar,  kemungkinan besar mereka adalah penduduk yang tinggal di daerah hinterland.

Gambar 4.      PERSENTASE TINGKAT PENDIDIKAN PENDUDUK USIA > 10 TAHUN DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Dinas Kependudukan & Capil Kota Batam Tahun 2009

Source  : office of civil records and Batam City.

2.6.       AGAMA

Mayoritas penduduk Kota Batam beragama Islam pada tahun 2009, hal ini dapat  terlihat pada diagram berikut ini.

Gambar 5.       PERSENTASE PENDUDUK MENURUT AGAMA

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Population persentage based on religius year 2009

Sumber : Dinas Kependudukan & Capil Kota Batam

Sources : office of civil records and the city batam

2.6.1.  LINGKUNGAN FISIK & BIOLOGI

Tingginya mobilitas pendatang dan pertumbuhan penduduk telah berdampak kepada permasalahan sosial dan kondisi lingkungan di Kota Batam. Hal tersebut terlihat dari menjamurnya rumah-rumah dan kios–kios bermasalah baik dari aspek tata kota maupun aspek kesehatan serta tidak sesuainya peruntukan lahan sebagaimana diamanatkan Perda Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004-2014.

Mengatasi permasalahan ini, pemerintah Kota Batam, Badan Pengembangan Kawasan Industri Kota Batam  dan instansi terkait lainnya telah membangun perumahan murah yang layak dalam bentuk rumah susun, hingga saat ini  telah dibangun sebanyak 30 (tiga puluh tujuh) unit twinblok terdiri dari 2752 unit yang mampu menampung 9.024 orang pekerja, dengan harapan kedepannya pemerintah dapat mewujudkan pemukiman yang sehat bagi masyarakat Batam, karena dalam lingkungan yang sehat akan menciptakan fisik dan jiwa yang sehat, yang berujung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kota Batam .

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN KOTA BATAM

THE HEALTH DEGREE KOTA BATAM

Situasi derajat kesehatan merupakan gambaran kondisi yang menunjukkan status/derajat kesehatan berupa angka kematian, angka kesakitan, status gizi masyarakat terutama kelompok umur dibawah 5 tahun dan usia harapan hidup. Status kesehatan masyarakat Kota Batam tahun 2009 merupakan perkembangan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.

3.1.1.1.       MORTALITAS

3.1.1.2.       Angka Kematian Ibu ( AKI )

Angka kematian ibu  merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat,  untuk mendukung pencapaian Millineum Development Goals (MDGs) dan RPJMN 2010-2014 dengan target AKI di Indonesia tahun 2014 penurunannya menjadi 117/100.000KH.

Data kematian ibu tahun 2009 didapatkan dari laporan Audit Maternal Perinatal (AMP) yang dikoordinir oleh Seksi kesehatan keluarga Dinas Kesehatan Kota Batam, dengan jumlah kasus kematian ibu pada tahun 2009 yang tercatat adalah sebanyak 9 orang dari jumlah 23.413 kelahiran hidup (Angka Kematian Ibu 38,4/100.000 KH), dibanding tahun 2008 angka kematian ibu adalah 56/100.000 KH (14 orang), terjadi penurunan sebesar 17.6/100.000 KH.

Laporan Audit Maternal Perinatal (AMP) seharusnya dapat menggambarkan status kesehatan maternal perinatal, namun kenyataan dilapangan tidak semua jumlah kematian Ibu terangkum dalam laporan Audit Maternal Perinatal. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan diunit-unit pelayanan baik pemerintah maupun swasta belum menggambarkan kematian maternal yang sesungguhnya. Untuk itu sangat diharapkan kepada semua pihak yang terkait untuk saling menguatkan sistem pencatatan dan pelaporan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dengan target 226/100.000 KH, maka Kota Batam telah mampu menekan AKI yang berkisar pada  38,4/100.000 KH , angka ini  masih dibawah AKI  sebesar 228/100.000 KH (SDKI, 2007).

Adapun penyebab kematian ibu pada tahun 2009 yang terlaporkan terlihat pada gambar berikut :

Gambar 6.        PROPORSI PENYEBAB KEMATIAN IBU

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber      : Laporan AMP Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Batam

Source       :

Penyebab kematian ibu banyak disebabkan oleh pre eklamsi 4 kasus (40%), karena abortus 2 kasus (20%), perdarahan 10% dan lain-lain, diantaranya karena penyakit yang menyertai selama kehamilan seperti  penyakit infeksi (hepatistis, malaria dan lainnya) sebesar 30%.

3.1.2.    Angka Kematian Perinatal

Perinatal adalah janin mulai usia 28 minggu dalam kandungan sampai  neonatus berusia 7 hari, sedangkan dikatakan bayi bila berusia 1 – 12 bulan (Ensiklopedi Indonesia).

Tahun 2009 jumlah kasus kematian perinatal berdasarkan hasil Audit Maternal Perinatal berjumlah 138 perinatal dari 23.413 kelahiran hidup (5,9/1000 kelahiran hidup) dengan penyebab kematian perinatal terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (< 2500 gram) sebesar 50.4% dan penyebab terkecil oleh asfixia (2.5%).

Gambar 7.         PROPORSI PENYEBAB KEMATIAN PERINATAL

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Laporan AMP Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Batam

Source        :

Dari 138 kematian perinatal, 50.2% disebabkan oleh Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau bayi lahir dengan berat badan < 2500 gram, dipengaruhi banyak faktor, antara lain karena kurangnya asupan gizi pada ibu hamil yang bisa disebabkan oleh faktor sosial ekonomi, perilaku hidup sehat, pengetahuan tentang gizi ibu hamil, sedangkan kelainan kongenital dapat dipengaruhi karena faktor hereditair atau penyakit tertentu. Penyebab lainya seperti ikterus, infeksi dan aspexia dapat terjadi karena faktor pelayanan kesehatan baik dari sarana maupun prasarana, jangkauan pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berada didaerah hinterland.

3.1.3.    Angka Kematian Bayi

Hasil pencatatan dan pelaporan dari unit pelayanan Puskesmas dan  rumah sakit baik pemerintah maupun swasta sebanyak 167 orang (7,1/1.000 KH) kasus kematian bayi (1-12 bulan). Angka ini masih jauh jika dibandingkan dengan target nasional  sebesar 34/1000 KH (SDKI, 2007).

3.1.4.   Angka Kematian Balita( AKABA )

Hasil pencatatan dan pelaporan  yang dilakukan oleh unit pelayanan  baik dari Puskesmas maupun rumah sakit , pada tahun 2009 ini  kasus kematian balita tercatat sebesar 178/23413 ( 7,6/1000 KH ).

3.2.       MORBIDITAS

3.2.1.  Sepuluh Penyakit Terbesar Rawat Jalan di Puskesmas se-Kota Batam

Berdasarkan hasil laporan SP2TP tahun 2009 jika dibandingkan dengan data tahun 2008 penyakit ISPA masih menduduki tingkat pertama di Puskesmas, hal ini terlihat dari gambaran 10 (sepuluh) penyakit terbesar kunjungan ke Puskesmas yang ada di Kota Batam, seperti gambar dibawah ini.

Gambar 8.    SEPULUH PENYAKIT TERBESAR DI PUSKESMAS

KOTA BATAM TAHUN 2009

10 Diseases Public health in Batam at 2009 years

Sumber : Bidang Yankesfar Dinkes Kota Batam

Source : Health service sector  Batam healt office

Pada gambar diatas menunjukkan bahwa penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) masih merupakan rating tertinggi pada 10 penyakit terbesar yang ditemukan pada pasien yang berkunjung ke Puskesmas dalam wilayah kerja Kota Batam, sedangkan penyakit-penyakit lain yang masuk 10 (sepuluh) penyakit terbesar pada tahun 2009 ini tidak jauh berbeda dengan kasus pada tahun 2008 penyebabnya dipengaruhi oleh diantaranya perubahan iklim, mobilitas daerah industri, debu lalu lintas kebakaran hutan ,serta yang terutama perilaku hidup bersih sehat masih belum membudaya, dan memerlukan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat.

3.2.2.  Kunjungan Rawat Jalan di  Rumah Sakit  di Kota Batam

Laporan kunjungan rawat jalan didapat dari rumah sakit pemerintah maupun swasta yang ada di Kota Batam, sebagian besar rumah sakit swasta menginformasikan data ini secara rutin setiap bulannya, walaupun ada beberapa rumah sakit belum melaksanakan pelaporan ini sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan rekapitulasi kunjungan rawat jalan Rumah Sakit  yang melapor ke Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2009, dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 9.    SEPULUH PENYAKIT TERBESAR DI RUMAH SAKIT

KOTA BATAM TAHUN 2009

10 Diseases hospital in Batam at 2009 years

Sumber : Bidang Yankesfar Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Health service sector  Batam healt office

ISPA masih merupakan rating tertinggi dari kunjungan rawat jalan di rumah sakit di Kota Batam pada tahun 2009.

Tingginya penyakit ISPA, dipengaruhi banyak hal, antara lain iklim yang berubah-rubah, polusi udara yang merupakan unsur determinan faktor lingkungan yang tidak bersahabat dengan kesehatan. Penataan lingkungan yang berwawasan kesehatan perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya menurunkan angka kesakitan penyakit tertentu terutama penyakit penyakit infeksi saluran nafas (ISPA).

3.2.3 Angka Harapan Hidup

Usia harapan hidup merupakan salah satu indikator dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Meningkatnya usia harapan hidup bersinergi dengan derajat kesehatan pada umumnya yang menggambarkan peningkatan kwalitas hidup dan kesejahteraan dengan kemampuan menjalani hidup dengan waktu yang lebih panjang.

Usia harapan hidup masyarakat Kota Batam untuk laki-laki 77 tahun dan perempuan 82 tahun (http//www.tat.sachen-ueber-deuthslands.de/fileadmin/sprachen/download/indoensisch/tat08_IND_09masyar.pdf), mengaju pada RPJMN tahun 2014, usia harapan hidup yang diharapkan pada tahun 2014 adalah 72 tahun.

3.2.   Keadaan Status Gizi

3.2.1.  Status Gizi Balita

Status Gizi terutama pada balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi Balita adalah dengan anthropometri yang menggunakan indeks berat badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).

Berdasarkan  hasil pemantauan status gizi yang dilakukan pada tahun 2009 lalu diketahui bahwa persentase gizi baik (normal) tahun 2009 adalah 97%, dibanding dengan tahun 2008 sebesar  89,2% menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna. Sedangkan pada tahun 2009 Balita dalam kategori kurus  didapat  dari 369/2.825 ( 13,06 % ) Balita.

Dari 369 Balita tersebut terdapat 15 (4,07% ) anak yang mengalami gangguan klinis dan telah dilakukan perawatan di rumah sakit sebesar 100%. Dari hasil pemantauan langsung ke lapangan, kondisi balita dengan status gizi kurang tidak hanya disebabkan karena kurangnya asupan makanan yang bergizi, akan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti penyakit tertentu sehingga balita kehilangan berat badan normal. Faktor lain yang berdampak tidak langsung pada status gizi balita seperti lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga balita mudah terserang penyakit infeksi. Berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi diketahui

bahwa Balita yang mengalami gangguan gizi sangat kurus yang di rawat di rumah sakit tersebut umumnya menderita gangguan penyakit infeksi chronis seperti TBC, Diare Chronis dan lain-lain yang bermukim dirumah yang tidak layak huni seperti sanitasi lingkungan, pencahayaan rumah, ventilasi perumahan yang kurang memenuhi syarat rumah sehat.

Upaya meningkatkan status gizi balita menjadi baik dan tidak jatuh pada status gizi yang tidak normal, baik, kurang ataupun lebih (obesitas) maka perlu komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat khususnya di Kota Batam.

Gambar 10.   PERSENTASE STATUS GIZI BALITA

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Table 3.4.1 Data Pemantauan status gizi balita di Kota Batam Tahun 2008

Data Monitoring nutritional status in five Batam Tahun 2008

Sumber : Seksi Gizi Bidang Kesga & Promkes Dinas Kesehatan Kota Batam

Source  : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

3.2.2.BBLR (Bayi berat badan lahir rendah)

Berat badan lahir rendah merupakan gambaran kurangnya asupan makanan bergizi pada ibu hamil sehingga pertumbuhan janin tidak maksimal, banyak faktor determinan yang berperan pada kejadian BBLR, antara lain faktor ekonomi, kurangnya pengetahuan ibu tentang kebutuhan zat gizi pada masa hamil atau adanya penyakit yang mengiringi ketika ibu hamil yang mempengaruhi asupan gizi yang dibutuhkan. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah berat badan lahir kurang dari 2500 gram, persentase BBLR tahun 2009 adalah 3.61% dari kelahiran hidup (845 kasus), dibanding tahun 2008 sebesar 2,91% terjadi sedikit peningkatan sebesar 0.7%. Berdasarkan laporan dari Puskesmas yang berbasis wilayah kerja dapat dilihat gambaran kejadian BBLR pada grafik berikut :

GAMBAR 11.           KEJADIAN BBLR MENURUT KECAMATAN

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Seksi Gizi Bidang Kesga & Promkes Dinas Kesehatan Kota Batam

Source  : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Hasil laporan yang didapatkan jumlah kasus BBLR tahun 2009 sebanyak 845 kasus dan semua kasus telah ditangani sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

3.3.   Gambaran Situasi Penyakit Menular di Kota Batam

3.3.1.  Penyakit Menular Bersumber Binatang

3.3.1.1.      Malaria

Penyakit Malaria sampai saat ini masih merupakan penyakit endemis di Kota Batam terutama dikawasan hinterland dan daerah pinggiran. Faktor geografis Kota Batam yang terdiri dari beberapa pulau dengan wilayah perairan/berawa-rawa  dan didukung juga dengan Kota Batam yang merupakan daerah yang sangat pesat dengan pembangunan fisik sehingga kurang memperhatikan keseimbangan alam (ekosistem) yang berdampak pada lingkungan,  banyaknya penggalian pasir yang menyisakan tempat genangan air yang menjadi media perkembangbiakan nyamuk sehingga meningkatkan populasi nyamuk anopheles sebagai vektor penularan penyakit malaria.

Kejadian kasus malaria yang secara nasional frekwensinya dihitung dalam bentuk API ( Annual paracit Insiden ), dengan definisi operasionalnya adalah jumlah kasus malaria dengan level kasus konfirm dibagi jumlah penduduk dikali 1000, berikut ini gambaran  API kota Batam Tahun 2006-2009.

Gambar 12.   Annual Parasite Incidence (API) Kota Batam 2006 s.d 2009

Annual parasite Incidence (API) Batam 2006 to 2009

Sumber : Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Batam

Source   : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Terlihat pada gambar diatas, bahwa API malaria pada 4 tahun terakhir berkisar dibawah 1/1000 penduduk. Pada tahun 2009 API malaria terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan angka mendekati seperti pada tahun 2007.

Berdasarkan tempat malaria dengan level kasus konfirm dalam wilayah kecamatan di Kota Batam dapat dilihat pada gambar berikut dibawah ini :

Gambar 13.   ANNUAL PARACITE INCIDENT MALARIA

MENURUT WILAYAH KECAMATAN DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Batam

Source   : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Seperti tahun yang lalu, Kecamatan Galang, Nongsa, Batam Kota, Sei Beduk dan Belakang Padang merupakan kantong kawasan endemik malaria. Sementara kecamatan lain API malaria hanya terjadi 1-2 kasus, bahkan di Kecamatan Sekupang dan Lubuk Baja tidak terdapat kasus malaria positif/konfirm. Namun demikian peningkatan kasus malaria tidak menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) sepanjang tahun 2009.

3.5.1.2.       DBD (Demam Berdarah Dengue)

Penyakit Demam berdarah (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk  aedes agypty dan aedes albopoictus, kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir diseluruh wilayah Indonesia, kecuali ditempat dengan ketinggian >1000 meter diatas permukaan laut. Faktor geografis sangat berperan pada kejadian penyakit ini selain faktor genetik hospes/perantara dengan tendesi agent yang berbeda yang menyebabkan manifestasi dan tatalaksana penangganan penderita yang berbeda. Faktor lain yang mempengaruhi penyakit DBD selain faktor lingkungan dan agen juga perlu diperhatikan faktor host/manusia, kerentanan dan respon imun serta perilaku manusianya untuk terserang penyakit DBD.

Infeksi virus dengue telah menjadi masalah kesehatan yang cukup serius pada negara-negara tropis dan sub tropis, karena dampak yang ditimbulkan apabila tidak mendapat penangganan segera dapat menyebabkan kematian. Kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Batam berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 (IR 122.99/100.000 penduduk) terjadi penurunan sebesar 1,1/100.000 penduduk dibanding  tahun 2008 (IR 123,8/ 100.000 penduduk).

Gambar 14.       INCIDENT RATE & CFR DBD

DI KOTA BATAM TAHUN 2006-2009

Sumber : Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Batam

Source   : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Angka kematian karena DBD atau yang lazim disebut Case Fatality Rate DBD (CFR) tidak ikut berfluktuasi seperti Incident Rate DBD (IR), terlihat pada gambar diatas dari tahun 2006-2009 dengan CFR yang cenderung menurun sehingga pada tahun 2009 berada dibawah 1%. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh penangganan yang cepat, tepat sehingga pasien terhindar dari kematian dan tingkat kewaspadaan baik petugas maupun terutama  kesadaran masyarakat yang berperilaku hidup sehat dalam menghadapi penyakit DBD. Pemerintah Kota Batam dalam hal ini Dinas Kesehatan selalu proaktif memberikan promosi kesehatan tentang PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)  dengan mengajak masyarakat melalui kegiatan 3M Plus yakni Menguras, Menutup, Mengubur dan tindakan lainnya yang dapat dilakukan pemberantasan jentik untuk mengurangi populasi nyamuk aedes aqipty.

Gambar 15.       KEJADIAN DBD DAN CFR BERDASARKAN WAKTU

DI KOTA BATAM TAHUN 2008 & 2009

Sumber : Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Batam

Source   : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Sepanjang tahun 2009 pada bulan Januari kasus masih cukup tinggi yang merupakan lanjutan pada bulan Desember tahun 2008, pada bulan Februari kasus menurun dan stabil hingga bulan Juni dan kembali meningkat pada bulan Juli. Puncak kasus DBD tahun 2009 berada pada bulan Oktober. Pada kondisi global warming dengan cuaca yang tidak menentu, hasil pengamatan melalui surveilens penyakit DBD menunjukkan peningkatan kejadian DBD terjadi pada awal musim hujan yang terjadi pada bulan Oktober 2009. Hal ini menggambarkan bahwa musim/cuaca sangat berpengaruh pada kejadian DBD, hasil pemantauan ini dapat dijadikan acuan/pedoman dalam melakukan pengendalian penyakit DBD, berdasarkan urutan waktu dapat dilakukan tindakan untuk memutuskan rantai penularan dengan melakukan pemberantasan jentik-jentik nyamuk dengan gerakan 3M plus.

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit endemis yang menyerang hampir seluruh wilayah di Indonesia, begitu juga di Kota Batam telah menyerang seluruh wilayah kecamatan. Faktor lain yang mempengaruhi kejadian DBD selain faktor lingkungan, faktor demografi juga merupakan faktor determinan antara lain adalah kepadatan penduduk suatu wilayah, perilaku manusia dan lainnya. Berikut hasil laporan surveilens Penyakit DBD yang disajikan dalam wilayah kecamatan.

Gambar 23.       KEJADIAN DBD MENURUT WILAYAH KECAMATAN

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Melihat tabel diatas, kejadian penyakit DBD terbanyak terdapat di wilayah kerja Puskesmas Sei Lekop (198 kasus), Puskesmas Baloi Permai dan Sekupang masing-masing 165 kasus, Puskesmas Sei Pancur sebanyak 131 kasus, Puskesmas Batu Aji dengan jumlah kasus 123 dan Puskesmas Sei Panas 124. Kecamatan ini merupakan daerah yang cukup padat penduduknya dibanding daerah lain. Kejadian kasus DBD terendah terjadi di wilayah kerja Puskesmas bulang sebanyak 9 kasus.

3.5.1.3.    FILARIASIS

Penyakit Menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan nyamuk ini yang menyerang saluran kelenjar getah bening dengan manifestasi pembengkakan pada tangan, kaki, glandulla mammae, serta scrotum sehingga menimbulkan kecacatan seumur hidup. Stigmanisasi masyarakat terhadap penyakit ini adalah penyakit kutukan.

Pengendalian penyakit filariasis di Kota Batam pada tahun 2008 telah dilakukan pengobatan pada semua kasus dengan jumlah kasus sebanyak 12 kasus. Tahun 2009 tidak lagi ditemukan kasus baru filariasis, namun demikian pemantauan melalui surveilens tetap dilakukan.

3.5.2.  Penyakit menular Langsung.

Penyakit menular langsung adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain tanpa perantara, beberapa penyakit menular langsung di Indonesia masih perlu perhatian dari berbagai pihak mengingat tingkat penyebarannya yang sangat mudah dan dampak yang timbul bisa berakibat pada kematian, seperti TB.Paru yang merupakan masalah utama kesehatan masyarakat, jumlah penderita TB.Paru di Indonesia menduduki rangking tiga terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Perkembangan penyakit HIV/AIDS yang cukup tinggi, dan pneumonia khususnya pada balita dan lainnya yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. (sumber ; Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculose , Depkes,2007)

3.5.2.1.TB Paru

Pada Tahun 2009 di Kota Batam Penderita Penyakit TB.Paru mengalami peningkatan, salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit TB. Paru adalah tingginya mobilisasi yang memudahkan penyebaran dan pertambahan penduduk yang meningkatkan, kepadatan penduduk, serta faktor perilaku masyarakat. Program penanggulangan  Penyakit TB.Paru, dimulai dengan penemuan kasus dengan gejala klinis, kemudian dilakukan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis dan kemudian kasus yang positif seteleh dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya diberikan pengobatan. Berikut gambaran penyakit TB. Paru di Kota Batam

Gambar 17.     KEJADIAN TB PARU KLINIS & POSISTIF MENURUT WILAYAH KERJA PUSKESMAS DIKOTA BATAM 2009

Sumber Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Dalam Tahun 2009 ini penemuan kasus TB. Paru positif terbanyak didapatkan di wilayah kerja Puskesmas Sekupang 21 kasus, Lubuk Baja 19 kasus, Sei Pancur dan Baloi Permai masing-masing 16 kasus, dan Puskesmas lainnya ditemukan 1 sampai 10 kasus. Kasus TB. Paru yang dinyatakan positif selanjutnya dilakukan pengobatan. Di Kota Batam, semua kasus TB. Paru Positif telah diberikan pengobatan. Untuk menilai keberhasilan program dapat dievaluasi pada tingkat kesembuhan pada penderita TB. Paru yang telah diobati. Berikut gambaran pelaksaan Program TB. Paru di Kota Batam tahun 2009.

GAMBAR 23.   KASUS TB (+), DIOBATI DAN KESEMBUHAN TB. PARU

WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA BATAM TAHUN 2009.

Sumber Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

3.5.2.2.    PMS dan HIV/AIDS

Kota Batam dengan letak yang strategis dan daerah perbatasan  merupakan pintu gerbang dengan negara Singapura dan Malaysia, daerah tempat bersandarnya kapal-kapal baik domestik maupun international, selain itu Kota Batam sebagai daerah industri dan perdagangan sehingga mobilitas penduduk cukup tinggi. Hal ini merupakan membawa tantangan tersendiri bagi Kota Batam khususnya di bidang kesehatan terutama dalam masalah penyakit kelamin khususnya HIV/AIDS. Semakin pesat perkembangan Kota Batam demikian juga halnya dengan penyakit HIV/AIDS mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Penyakit HIV/AIDS yang merupakan penyakit perilaku, memerlukan perhatian dan kesadaran bagi semua pihak baik masyarakat maupun stake holder sebagai pembuat kebijakan dalam penanggulangan penyakit HIV/AIDS.

GAMBAR 19.      PERKEMBANGAN KASUS HIV DI KOTA BATAM

TAHUN 1992 – 2009

Sumber :  P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Peningkatan kasus HIV/AIDS dari tahun 1992 mengalami peningkatan yang cukup tajam, hal ini menjadikan Kota Batam dari status tingkat low prevalence epidemic menjadi concentrated level of epidemic bahkan Generalise level of epidemic, yang artinya meningkatkan pemantauan tidak hanya pada orang-orang yang berisiko, akan tetapi lebih luas pada masyarakat umum.

Kasus HIV/AIDS sangat identik dengan fenomena gunung es, kasus yang muncul hanya sebagian kecil, jika dibanding dengan bagian es yang terletak dibawah permukaan. Untuk menemukan kasus diperlukan strategi mengingat masih adanya diskriminasi sosial di masyarakat Kota Batam.

Berdirinya klinik IMS (Lubuk Baja, Teluk Pandan) di Kota Batam meningkatkan penemuan kasus serta meningkatkan upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS terutama pada kelompok risiko tinggi. Di Kota Batam pertama kali kasus HIV ditemukan pada tahun 1992, peningkatan terjadi setiap tahunnya, pada tahun 2008 ditemukan 231 kasus HIV dengan kumulatif sejak tahun 1992-2008 sebanyak 1.066 kasus dan hingga tahun 2009 telah tercatat 1339 kasus dengan incident rate tahun 2009 meningkat dibanding tahun 2008 tercatat  273 kasus.

Gambar 20.    KEJADIAN KASUS HIV,  AIDS DAN KEMATIAN HIV  AIDS DI

KOTA BATAM TAHUN 2006-2009

Sumber :  P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Penderita HIV meningkat ditahun 2009, sementara penderita AIDS sama seperti tahun 2008 yakni sebanyak 77 orang. Jumlah kematian akibat penyakit ini juga bertambah dari 30 orang ditahun 2008 dan menjadi 36 orang ditahun 2009.

Upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS di Kota Batam, telah dilakukan dengan berbagai strategi, mulai dari upaya pencegahan primer sampai tertier seperti promosi kesehatan, pemantauan lokasi yang berisiko tinggi terhadap penularan, penjaringan/skrining terhadap kelompok risiko tinggi, hingga pemberian ARV. Berikut gambaran upaya penanggulangan HIV/AIDS melalui akses layanan pada kelompok risiko tinggi yang telah dilakukan pada tahun 2009

Gambar 21.   UPAYA PENANGGULANGAN HIV/AIDS MELALUI AKSES LAYANAN PADA KELOMPOK RISIKO TINGGI DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber :  P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

3.5.2.3.       Kusta

Penyakit Kusta merupakan penyakit menahun yang disebabkan oleh Mikro bacterium Kusta. Penyakit kusta ini menyerang susunan syaraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Penderita kusta di Kota Batam bukan lagi merupakan fokus utama, tetapi perlu menjadi perhatian juga untuk diawasi dan dimonitoring jangan sampai terjadi ledakan kasus, penderita kusta yang terdata bukan berasal dari penduduk menetap tetapi migrasi daerah lain dan bila ditinjau dari target, dimana prevalansinya sudah jauh dari target nasional <1 per 10.000 penduduk, jumlah penderita kusta di Kota Batam yang selesai pengobatan (RFT)  pada  tahun 2008 sebanyak 13 orang, dan pada tahun 2009  sebanyak 14 kasus  saat ini dalam pengobatan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 12 (lampiran).

3.5.2.4.    Infeksi saluran Pernapasan Akut / Pneumonia

ISPA merupakan rating pertama dari 10 penyakit terbesar baik di Puskesmas maupun di rumah sakit. Kasus penyakit ISPA dengan Pneumonia ringan maupun berat masih merupakan permasalahan yang perlu penanggulangan serius mengingat dampak yang timbul sangat mempengaruhi derajat kesehatan terutama pada kelompok umur dibawah lima tahun (balita)

Kasus Pneumonia terutama pada balita di Kota Batam dan yang dilakukan penangganannya dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar  22.   JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA DAN YANG DITANGANI DI KOTA BATAM TAHUN 2009.

Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source :   Disrase control enviroptmental recapitalization health office of Batam

Tahun 2009 kasus pneumonia pada balita adalah 433 kasus, penanganan yang dilakukan telah optimal (100%). Dibanding tahun 2008  berjumlah 340 kasus yang ditangani, hal ini menunjukkan adanya sedikit peningkatan.

3.5.2.5         Diare

Penyakit diare masih menjadi perhatian bagi semua pihak, karena pengaruh yang tidak timbul jika tidak ditangani dengan cepat akan berakibat kematian terutama pada balita.  Kejadian kasus diare tak lepas dari pengaruh lingkungan, lingkungan yang sehat membantu menurunkan angka kesakitan terutama penyakit diare, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 23.  DISTIRBUSI KEJADIAN DIARE DAN PADA BALITA MENURUT WILAYAH KERJA PUSKESMAS DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source  :   Disrase control enviroptmental recapitalization health office of Batam

Kejadian penyakit diare di Kota Batam tahun 2009 untuk semua kelompok umur adalah 12.487 kasus, yang menyerang balita sebanyak 4.848 kasus, semua kasus diare telah ditangani terutama pada balita sehingga angka kematian akibat diare tidak terjadi.

3.6.   PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN

Faktor lingkungan merupakan faktor determinan yang paling besar mempengaruhi derajat kesehatan, menurut teori HL. Blum kondisi lingkungan 40% akan mempengaruhi derajat kesehatan suatu wilayah. Pada bagian ini akan digambarkan kondisi lingkungan di Kota Batam secara fisik, antara lain persentase rumah sehat, pemeriksaan tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan, kepemilikan sanitasi dasar, akses air bersih dan persentase  rumah/bangunan bebas jentik nyamuk aedes.

3.6.1.  Rumah Sehat.

Rumah sehat di Kota Batam tahun 2009, dari 270.198 rumah yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan telah dilakukan pemeriksaan sebanyak 59.906 (22.17%) sebagai sampel, sebanyak 40.838 (68.17%) telah memenuhi syarat rumah sehat dan 31,63% rumah didapat tidak memenuhi syarat kesehatan, seperti sanitasi dasar, pencahayaan, ventilasi rumah dan lainnya.  Angka ini merupakan hasil survey yang dilakukan untuk melihat gambaran keberadaan rumah sehat di Kota Batam.

Gambar 24.   HASIL SURVEY RUMAH SEHAT DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source   : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

3.6.2.  Akses air bersih

Kwalitas air sangat berpengaruh bagi kesehatan manusia, jumlah keluarga sebagai unit terkecil yang memanfaatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di Kota Batam berdasarkan hasil survey tahun 2009 dengan hasil sebagai berikut :

Gambar 25.   PERSENTASE KELUARGA MEMILIKI AKSES AIR BERSIH

DI KOTA BATAM TAHUN 2009.

Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source     : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Survey terhadap keluarga dengan akses air bersih dilakukan pada  206.578 (52.96%) keluarga sebagai sampel dari 379.425 keluarga yang ada di Kota Batam. Hasil survey menggambarkan bahwa sebagian besar keluarga telah menggunakan air bersih dengan sumber ledeng sebesar 88%. Hal ini menunjukan bahwa kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan air bersih sudah cukup baik.

3.6.3.  Sanitasi dasar

Sanitasi dasar merupakan sarana yang harus tersedia pada setiap rumah yang terdiri dari kepemilikan jamban, tempat sampah dan saluran pengelolaan air limbah (SPAL). Berdasarkan hasil pemantauan melalui kegiatan survey dilapangan didapatkan persentase sanitasi dasar yang memenuhi syarat kesehatan, seperti pada gambar berikut.

Gambar 26.   HASIL SURVEY SANITASI DASAR PADA KELUARGA

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source     : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

3.6.4.  Pemeriksaan TUPM

Pemeriksaan Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) perlu dilakukan pemantauan upaya pencegahan terhadap kemungkinan yang berdampak terhadap kesehatan. Hasil survey yang dilakukan tahun 2009, pada hotel, retoran, pasar TPUM lainnya tergambar pada grafik berikut ini.

Gambar 27.   HASIL SURVEY TUPM DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Batam

Source  : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Hotel di Kota Batam berjumlah 45 hotel dan sebanyak 26 (57.8%) yang diperiksa dengan hasil 100% telah memenuhi syarat-syarat kesehatan atau sehat, restoran yang ada berjumlah 361 buah, yang dilakukan pemeriksaan 79 restoran (21.9%) dan sebanyak 89.9% dinyatakan sehat dan jumlah pasar yang ada di Kota Batam 46, yang diperiksa sebanyak 27 pasar, hasil survey pasar yang sehat sebanyak 81.5%.

3.6.5.  Rumah/bangunan bebas jentik nyamuk aedes

Pemeriksaan terhadap jentik nyamuk aedes merupakan upaya pengendalian penyakit DBD. Upaya ini merupakan salah satu upaya pencegahan dengan kegiatan yang bertujuan untuk memutusan rantai penularan dari nyamuk ke manusia dengan mengurangi populasi dilingkungan.

Pemeriksaan jentik nyamuk dilakukan oleh Juru Pemantau Jentik (JUMANTIK) sebagai perpanjangan tangan Dinas Kesehatan dalam pengendalian penyakit DBD yang terdapat pada beberapa kelurahan dengan prioritas berdasarkan wilayah yang banyak kasus penyakit DBD cukup tinggi dibanding daerah lainnya.  Untuk menstimulasi peran aktif masyarakat, salah satu upaya pengendalian DBD melalui JUMANTIK di tingkat kelurahan, maka telah dibentuk daerah/kelurahan percontohan di 2 (dua) Kecamatan, untuk tahun 2009 ini berada di Kelurahan Buliang dan Bukit Tempayan Kecamatan Batu Aji, Kecamatan Batu Ampar di Kelurahan Tanjung Sengkuang dan Batu Merah.

Gambar 28.     PERSENTASE ANGKA BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES

MENURUT WILAYAH KERJA PUSKESMAS

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Batam

Source   : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Melihat gambar diatas dan dihubungkan dengan angka kejadian DBD, terlihat bahwa wilayah kerja Puskesmas dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) yang rendah memiliki angka kejadian penyakit DBD yang cukup tinggi dibanding daerah lain yang memiliki ABJ tinggi. Penyajian sebelumnya didapatkan bahwa kawasan epidemik DBD adalah wilayah kerja Puskesmas Sei Lekop, Puskesmas Baloi Permai, hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang ditunjukkan dengan keberadaan jentik nyamuk aedes merupakan salah satu faktor determinan terhadap kejadian penyakit DBD.

BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

SITUATION HEALTH EFFORTS

4.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Pelayanan kesehatan dasar merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat yang harus tersedia di setiap daerah dan unit pelaksana teknis pelayanan kesehatan seperti Puskesmas. Pelayanan kesehatan dasar yang cepat dan tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat dapat teratasi, berbagai jenis pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan fasilitas kesehatan dalam wilayah kerja Puskesmas meliputi :

4.1.1.   PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak sebagai bagian dari pelayanan dasar bertujuan untuk menekan angka kematian dan kesakitan ibu dan anak sebagai indikator tingkat kesejahteraan suatu bangsa. Ada beberapa upaya pelayanan kesehatan ibu dan anak diantaranya :

a)           Pemantauan wilayah setempat program KIA (PWS-KIA)  yang tercakup didalam program tersebut meliputi :

Pelayanan Antenatal  K1 dan K4 merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil oleh tenaga kesehatan profesional  (dokter  spesialis kebidanan, dokter umum, perawat dan bidan). Pelayanan tersebut mengacu kepada pedoman pelayanan antenatal yang  dititik beratkan kepada kegiatan preventif dan promotif dan hasil pelayanan antenatal dapat dilihat pada cakupan pelayanan antenatal  K1 (kunjungan pertama kali) dan K4 (selama kehamilan minimal 4x pemeriksaan). Cakupan K1 atau disebut juga akses pelayanan ibu hamil yang merupakan gambaran ibu hamil melakukan pemeriksaaan kunjungan pertama kali ke fasilitas pelayanan kesehatan. Sedangkan Cakupan K4 merupakan gambaran  ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar minimal paling sedikit 4 (empat) kali kunjungan dengan interval kunjungan pada triwulan pertama dan triwulan kedua masing-masing satu kali dan dua kali pada triwulan ketiga kehamilan.

Pada tahun 2008, yang mendapatkan  pelayanan Antenatal K1 berjumlah  19.923  dari 23.259  ibu hamil yang terdata dengan persentase 85,66%, tahun 2009 peningkatan dengan cakupan menjadi 87.23%. Sebagai indikator keberhasilan pelayanan kesehatan ibu dapat diketahui dari cakupan K4, pada tahun 2009 cakupan K4 di Kota Batam dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 29.   PERSENTASE CAKUPAN K4 PER WILAYAH KERJA PUSKESMAS

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber :

Source :

Berdasarkan Standat Pelayanan Minimal (SPM) cakupan K4 adalah 95%, di Kota Batam tahun 2009 cakupan K4 adalah 87.23% dibanding tahun 2008 (76,28%) terjadi peningkatan yang cukup berarti. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil dalam pemeliharaan kesehatan selama kehamilannya dengan memanfaatkan sarana kesehatan. Melihat dari gambar diatas, masih ada beberapa Puskesmas yang belum mencapai target yang telah ditetapkan. Hasil pemantauan dilapangan kurangnya partisipasi fasilitas kesehatan yang ada terutama pihak swasta seperti Bidan Praktek Swasta (BPS) dan Rumah Bersalin (RB) dalam pelaporan ke Puskesmas di wilayah kerjanya. Hanya sebagian kecil BPS/RB di Kota Batam yang melaporkan kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

b)       Mengadakan pertemuan evaluasi program Audit Maternal Perinatal (AMP) setiap tahun yang bertujuan menggalang kekuatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui pertemuan koordinasi baik pihak pemerintah maupun swasta. Pertemuan evaluasi program AMP membahas strategi yang perlu dirancang untuk meningkatkan cakupan termasuk pencatatan dan pelaporan kesehatan ibu dan anak sepeti laporan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan deteksi dini komplikasi persalinan.

Persalinan yang berisiko terhadap ibu dan anak yang bisa berakibat pada kematian baik pada ibu maupun pada anak. Deteksi dini terhadap faktor yang berisiko merupakan upaya untuk mengantispasi komplikasi yang timbul. Selain faktor risiko , kepekaan petugas kesehatan tentang  penanganan faktor risiko juga mempengaruhi angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

Pada tiga tahun terakhir untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi petugas kesehatan khususnya bidan, telah dilaksanakan pelatihan asuhan persalinan normal (APN) dilingkungan Dinas Kesehatan Kota Batam. Pada tahun 2009 bidan yang mengikuti pelatihan APN sebanyak 30 orang dan hingga tahun ini berkisar 100  orang bidan  pemerintah maupun swasta  telah mengikuti pelatihan APN ( Asuhan Persalinan Normal ) sebagai kegiatan uji kompetensi bagi Bidan . Pentingnya persalinan oleh tenaga kesehatan perlu ditingkatkan untuk itu penyebar luasan informasi selalu digalakkan yang merupakan kesinambungan dari bidan sebagai tenaga yang kompeten dalam menolong persalinan normal. Di Kota Batam pertolongan persalinan dengan tenaga kesehatan mencapai 106,8%.  Pada dua tahun terakhir persalian dengan tenaga kesehatan melebihi 100%, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingginya mobilisasi penduduk terutama pada kelompok usia mengingat Batam sebagai daerah industri yang lebih  banyak menyerap tenaga kerja wanita pada kelompok umur tersebut. Berdasarkan proporsi penduduk, proporsi penduduk usia subur cukup tinggi dibanding kelompok umur lainnya sehingga untuk menentukan sasaran yang menggunakan estimasi dari jumlah penduduk sesuai dengan petunjuk Departemen Kesehatan RI menjadi over estimate.

Gambar 30.   PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN DENGAN NAKES

DI KOTA BATAM TAHUN 2009.

Sumber             :

Source             :

Melihat grafik diatas, pada beberapa Puskesmas, melebihi hingga 200% persen, dan ada juga yang kurang dari 50% seperti Galang dan Bulang. Hal ini disebabkan karena sistem pencatatan dan pelaporan tidak berbasis wilayah kerja Puskesmas, akan tetapi berdasarkan laporan persalinan yang didapatkan dari sarana kesehatan tempat persalinan tanpa mengindahkan tempat tinggal ibu bersalin. Secara kwantitas persalinan telah sesuai dengan target, namun secara kwalitas pelaporan tidak sesuai dengan PWS yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, perlu ditingkatkan sistem pencatatan dan pelaporan yang berbasis wilayah kerja Puskesmas, sehingga pemantauan yang optimal dapat terlaksana.

4.1.2.  PELAYANAN KELUARGA BERENCANA

Sejak tahun 2008, Program keluarga berencana berada pada tupoksi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, namun dalam hal memberikan pelayanan keluarga berencana kepada masyarakat selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Batam.

Untuk diketahui bahwa berdasarkan data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Batam  pada tahun 2009 ini  jumlah PUS 169.975  dengan KB baru 13.028 (7,66%),  bila dibandingkan tahun 2008 jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 148.936 PUS dengan jumlah KB baru 11.494 (7,69%),  hal ini menunjukkan adanya peningkatan bahwa masyarakat sudah mulai memahami pentingnya program keluarga berencana bagi keluarga untuk menuju norma keluarga sehat sejahtera dan berkualitas, serta ditunjang pelayanan yang lebih optimal dengan akses terjangkau oleh masyarakat. Pada tabel berikut ini menggambarkan pelayanan Keluarga Berencana tahun 2009 di Kota Batam.

Gambar 31.   JUMLAH PUS, AKSEPTOR AKTIF & AKSEPTOR BARU

PER KECAMATAN DI KOTA BATAM TAHUN 2009.

Sumber             :

Source  :

Persentase akseptor di Kota Batam tahun 2009 adalah 68% dengan metode kontrasepsi suntikan sebesar (48,38%), pil (37,15%), jika dibandingkan tahun 2008 yang tertinggi menggunakan cara/metode KB oleh akseptor KB aktif di Kota Batam yaitu Suntikan (44,19%), menyusul PIL (37,10%), dan AKDR (8,7%) untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran tabel  21.

4.1.3.          PELAYANAN IMUNISASI

Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit dengan pemberian kekebalan tubuh. Secara bertahap program imuniasi telah berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Indikator keberhasilan program imunisasi dapat dilihat dari cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI), dengan penilaian setiap kelurahan pencapaian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB3, Polio 4 dan campak). Di Kota Batam desa/kelurahan UCI meningkat dibanding tahun 2008, Tahun 2009 UCI di Kota Batam belum mencapai 100%. Hal ini disebabkan masih ada beberapa kelurahan karena proporsi penduduk dengan kelompok umur 1-14 bulan di Kota Batam pada kelurahan tertentu tidak sesuai dengan proporsi estimasi kelompok umur yang digunakan.

Gambar. 32   PERKEMBANGAN DESA/KELURAHAN UCI

DI KOTA BATAM TAHUN 2006-2009.

Sumber P2PL Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Disrase control enviroptmental recaptitalization sector health office of Batam

Sesuai dengan tujuan imunisasi, untuk menurunkan angka kesakitan pada penyakit tertentu perlu selain pencapaian target yang telah ditetapkan, perlu didukung supply vaksin yang dibutuhkan, pengawasan dan pengiriman vaksin dengan menggunakan cold chain sehingga berhasil guna dengan optimal serta pencatatan dan laporan dari pihak swasta yang masih perlu menjadi perhatian, sehingga PWS dapat menjadi sumber informasi yang akurat.

Adapun rekapitulasi pencapaian imunisasi dasar di Kota Batam tahun 2009 seperti pada garfik berikut ini.

Gambar. 33.  PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI DASAR

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

.

Sumber   :

Source    :

Sasaran program imunisasi lainnya adalah anak sekolah dengan kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah BIAS dengan pemberian imunisasi campak. Di Kota Batam telah dilaksanakan kegiatan BIAS dengan sasaran 195 Sekolah Dasar (SD) .

Upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak juga dilakukan imunisasi pada wanita usia subur dan ibu hamil melalui vaksinasi Tetanus Toxoid (TT). Salah satu cara mencegah penyakit tetanus pada bayi baru lahir adalah dengan memberikan imunisasi TT kepada ibu selama kehamilan 2 (dua) kali suntikan yaitu TT1 dan TT 2. Pada WUS imunisasi dilakukan sampai 5 kali.

4.1.4.  Pengendalian  Program Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Acute Flaccid Paralysis (AFP) adalah keadaan lemah atau kelumpuhan yang bersifat flacid yang terjadi secara akut pada anak usia kurang dari 15 tahun dan bukan karena ruda paksa. Pengendalian penyakit lumpuh layu atau AFP Penemuan kasus AFP (Acut Flacid Paralysis) atau lumpuh layuh  merupakan salah satu strategi untuk utama eradikasi polio dari 4 strategi utama yaitu : cakupan imunisasi polio rutin tinggi dan merata, imunisasi  tambahan (PIN, Sub-PIN dan Mop-Up), Surveilans AFP atau lumpuh layuh akut,  pengamanan virus polio liar  di laboratorium.

Sasaran Angka AFP Nasional adalah > 2 per 100.000 anak usia kurang dari 15 tahun. Tahun 2008 Angka capaian AFP untuk Kota Batam 4.31/100.000 pada anak usia kurang dari 15 tahun dan pada tahun 2009 ditemukan 7 kasus AFP dari 236.561 anak usia < 15 tahun (2,96%), hal ini menunjukkan bahwa proaktif dalam penemuan kasus AFP telah berjalan baik sehingga melebihi target yang telah ditetapkan.  (Data Disduk & Capil Kota Batam jumlah anak umur kurang dari 15 tahun pada tahun 2008 adalah 236.561 jiwa). Tindak lanjut dari penemuan kasus AFP adalah mengirimkan sample faeces penderita AFP yang dikirim ke Puslitbangkes Depkes RI dan didapatkan hasil negatif.

4.2. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN & PENUNJANG

Yang termasuk kegiatan pelayanan kesehatan rujukan adalah program Asuransi Kesehatan dan program jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JAMKESMAS) yang lebih difokuskan kepada masyarakat miskin. Kuota JAMKESMAS bagi masyarakat miskin Kota Batam Tahun 2009 sebanyak 36.207 RT dengan jumlah anggota 136.044 jiwa yang berarti bahwa Kota Batam memiliki keluarga miskin sebesar 14,20% dari jumlah penduduk Batam dan telah mendapatkan pelayanan jamkesmas sesuai dengan dana yang tersedia yang  berasal dari dana APBN dan APBD Kota Batam, namun kuota untuk tahun 2009  ini akan digunakan data BPS hasil Pendataaan Program Perlindungan  Sosial  (PPLS).

4.2.1. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Menurut laporan dari Rumah Sakit se-Kota Batam tahun 2008 yang melaporkan data persentase pemanfaatan tempat tidur (BOR) sebesar  39,8% dengan  rata-rata lama hari perawatan (LOS) sebesar 2,7 hari (3 hari), persentase pasien keluar mati (GDR) sebesar 16 orang meninggal dari 1000 pasien keluar hidup mati,  sedangkan pasien yang keluar mati lebih dari 48 jam (NDR) sebesar 4-5 orang meninggal dari 1000 pasien yang keluar (hidup/mati).

4.3. PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR

Upaya pelayanan kesehatan pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveillance epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindak lanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan  pada penderita. Disamping itu upaya pelayanan kesehatan preventif tetap dilakukan seperti pemberian imunisasi, pengurangan factor resiko melalui peningkatan kualitas lingkungan kesehatan masyarakat, peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular melalui berbagai kegiatan dibawah ini :

4.3.1.  Penyelidikan Epidemiologi dan  Penanggulangan Kejadian Luar Biasa

Penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan kejadian luar biasa merupakan langkah awal dari tindak lanjut penemuan kasus dini terhadap penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi letusan atau wabah pada masyarakat. Upaya ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebar luasan penyakit, penanggulangan dini serta mengurangi dampak yang ditimbulkannya. Pada tahun 2008 Batam hanya mengalami adanya peningkatan kasus tetapi tidak pernah mengalami kejadian luar biasa (wabah), dan hal ini dikarenakan adanya kerja sama antar instansi terkait  dalam monitoring serta evaluasi pengendalian program tersebut.

4.3.2.  Pemberantasan DBD

Perkembangan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam dari tahun ke tahun cenderung makin meningkat. Pada tahun 2006 sampai dengan tahun 200 setiap bulan selalu ditemukan kasus. Upaya pemberantasan Demam Berdarah Dengue ini lebih berfokus kepada partisipasi dan peran serta masyarakat melalui 3 M Plus yaitu menguras, mengubur dan menutup dan tindakan lainnya untuk memberantas jentik nyamuk aedes dengan harapan masyarakat yang penuh kesadaran berperilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kesehatan lingkungannya sendiri. Selain dari pada itu dihimbau kepada masyarakat agar menjadikan budaya untuk membersihkan lingkungannya sendiri melalui gotong royong massal setiap minggu atau sesuai kebutuhan masyarakatnya.

Upaya dari Pemerintah Kota Batam dibidang kesehatan diantaranya sebagai berikut :

  1. Mengadakan fokus fogging yang ditujukan kepada masyarakat yang terkena kasus DBD tersebut.
  2. Menyediakan 2009 fogging fokus yang diberikan kepada masyarakat sesuai kondisi daerah yang terjangkit dan merupakan daerah endemik.
  3. Penyelidikan epidemiologi dalam penemuan kasus dini serta penyuluhan tentang 3M, juga ditunjang dengan pengadaan alat diagnosa dini dalam penemuan kasus.
  4. Penyebar luasan informasi pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus yaitu Menguras, Menimbun, Menutup dan melakukan tindakan lainnya yang dapat mencegah penulatan penyakit DBD.
  5. Membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat kepada masyarakat Kota Batam.
  6. Penambahan Juru Pemantau Jentik DBD dari 40 menjadi 300 petugas.
  7. Pemberian bubuk  larvacida dengan tujuan pembunuh larva nyamuk DBD.

4.3.3.  Pemberantasan Malaria

Berbagai upaya pemberantasan malaria di Kota Batam saat ini diantaranya meliputi :

  1. Penambahan juru pengamat vektor yang ditempatkan didaerah endemis di kelurahan se Kota Batam dengan tugas fungsi pokoknya untuk mengamati tempat perindukan jentik dan pemeriksaan jentik nyamuk malariarumah penduduk.
  2. Penambahan juru malaria desa (JMD) dengan tugas fungsi pokoknya pengambilan sample darah penderita.
  3. Pelaksanaan cross ceck sediaan darah malaria untuk memvalidasi diagnosis dan menentukan error rate bagi petugas laboratorium.
  4. Mengadakan survey pendahuluan terhadap tempat perindukan nyamuk malaria

4.3.4.  Pengendalian HIV/AIDS

Upaya pelayanannya kepada masyarakat melalui berupa kegiatan antara lain sebagai berikut :

  1. Mengadakan pertemuan koordinasi KPAD 2 kali setahun dengan tujuan memonitoring evaluasi program dengan instansi terkait seperti LSM, Kelompok YMKK yang dalam pembinaan Dinas Kesehatan Kota Batam.
  2. Pelaksanaan Sero Survey  dengan menggunakan metode sentinel survey yang bertujuan melakukan pemeriksaan darah pada penduduk yang beresiko terkena HIV seperti kepada pekerja seks komersil di lokasi  Kelurahan Tanjung Uncang, kelompok waria/gay, psk ditempat hiburan, psk lokalisasi Mat Belanda.
  3. Mengadakan pelatihan bagi petugas serosurvey Puskesmas se-Kota Batam (sasaran 6 Puskesmas).
  4. Mengadakan pelatihan pengelola tempat-tempat hiburan di Kota Batam secara bertahap setiap tahunnya.
  5. Pelaksanaan Maping dan Collecting data KPAD

4.3.5.  Pengendalian Kasus TB. Paru

Pada tahun 2008 ini upaya pelayanan program TB mengacu kepada penatalaksanaan program pengendalian penyakit Tuberculosis (TB) sesuai dengan standar pengobatan sehingga tercapai case detection rate sebesar 60%, untuk monitoring dan evaluasi program tesebut setiap bulannya merekap hasil laporan TB01 dan TB 02 dan dalam program penanganan penderita TB paru yang ditemukan harus dilakukan pemeriksaan kontak serumah dimana kemungkinan besar sudah terjadi penularan pada anggota keluarga yang lainya,dan dalam penanganan program semua penderita yang ditemukan ditindak lanjuti dengan pengobatan paket intensif baik di instansi kesehatan pemerintah maupun swasta.

4.4. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI

4.4.1.  Pembinaan Kesehatan Lingkungan

Upaya pembinaan kesehatan lingkungan bertujuan untuk mewujudkan lingkungan yang lebih sehat agar dapat melindungi masyarakat dari segala kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan gangguan atau bahaya kesehatan yang berdampak kepada kesehatan masyarakat. Upaya ini dilakukan diantaranya meliputi:

  1. Dengan melakukan pembinaan, pemantauan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek yang dipantau dan sumber-sumber lingkungannya seperti air, udara, tanah, makanan dan minuman.
  2. Pengawasan kualitas air bersih & pengambilan sampel air bersih di 3 kecamatan laut (bulang, galang, dan belakang padang).
  3. Pembinaan kesehatan tempat-tempat umum ( TTU ) di 22 lokasi.
  4. Pembinaan rumah sehat di 11 wilayah kerja Puskesmas.
  5. Monitoring limbah medis baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit.
  6. Pemeliharaan peralatan laboratorium kimia dan pengadaannya.
  7. Dalam pelaksanaannya pembinaan kesehatan lingkungan banyak melibatkan kerja sama antara lintas sektor terkait dan lintas program.

4.4.2.  Pembinaan tempat-tempat umum

Pembinaan tempat-tempat umum dilakukan pada tempat-tempat yang banyak dikunjungi masyarakat dan rawan terjadi penularan penyakit dan gangguan kesehatan seperti : penginapan, hotel, pasar, kolam renang, tempat hiburan dan lain-lain.

4.4.3.      Pengawasan Kualitas Air Bersih dan  Air Minum

Pengawasan kualitas air bersih dilakukan pada sumber air bersih yang dimanfaatkan untuk keluarga seperti sumur gali, PAM dan air hujan.

4.4.4.      Pembinaan Institusi Sehat

Pembinaan institusi sehat pada tahun 2009 dilakukan pada rumah sakit, puskesmas, pabrik, perusahaan pest control dan depot air minum.

4.5. PERBAIKAN GIZI KELUARGA

4.5.1.      Pemantauan Pertumbuhan Balita

Upaya pemantauan terhadap pertumbuhan Balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu secara rutin setiap bulan, Sosialisasi keluarga Sadar Gizi (Kadarzi), workshop Penatalaksanaan Kasus Gizi Buruk.

4.5.2.      Pemberian Kapsul Vitamin A

Upaya pelayanan pemberian vitamin A dosis tinggi ini sebagai pencegahan terhadap kebutaan dini pada Balita Pemberian Kapsul Vitamin A kepada anak Balita (1-4 tahun) adalah untuk menanggulangi kekurangan vitamin pada anak–anak tersebut. Sebanyak 73,3% atau  54.891 Balita telah  mengkonsumsi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000IU), dan anjuran promosi kesehatan lainnya untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dosis tinggi yang terdapat pada sayuran dan buah-buahan.

4.5.3.      Pemberian Tablet Besi

Pada tahun 2009, program pemberian tablet besi sesuai dengan pedoman teknis dari Depkes RI, upaya pelayanan pemberian tablet besi (Fe) ini adalah dalam rangka pencegahan anemia pada ibu hamil, bulin, bufas atau wanita usia subur melalui deteksi dini Anemia.

4.5.4.      Cakupan Pemberian ASI Ekslusif

Supaya tercapainya cakupan pemberian ASI Ekslusif ini melalui promotif bahwa saat ini digalakkan program Inisiasi Menyusui Dini baik di posyandu maupun disarana pelayanan swasta lainnya seperti di bidan praktek perorangan, rumah sakit, rumah bersalin atau sarana yang melayani kesehatan ibu dan anak agar tercipta anak yang cerdas baik kualitas maupun kuantitasnya.

GAMBAR  38 JUMLAH BAYI DENGAN ASI EKSLUSIF PER PUSKESMAS

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang Kesga, Promkes, Gizi Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Family health sector Batam Health office

4.6. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN  ALAT KESEHATAN

Dalam program pelayanan kefarmasian ini bekerjasama dengan UPT Gudang Farmasi merencanakan, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi kebutuhan obat-obatan yang diperlukan oleh unit pelayanan tingkat dasar di 13 Puskesmas dan jajarannya seperti Pustu dan Polindes Se Kota Batam, tidak termasuk RSUD Kota Batam karena otonomi RSUD yaitu membuat rencana kebutuhan obat-obatan tersendiri, begitu juga kebutuhan alat kesehatan 1 (satu) paket yang diperlukan oleh unit pelayanan tingkat dasar, pada tahun 2009 sasarannya yaitu untuk 13 Puskesmas dan 49 Pustu dan 30 Polindes.

Selain tersebut diatas upaya pelayanan kefarmasian lainnya adalah melakukan pengawasan peredaran obat, makanan, kosmetik, yang layak dan aman dikonsumsi dengan sasaran  13 Puskesmas, 14 RS, 174 BP, 63 RB, 76 Apotik, 27 PBF, 173 Toko Obat, dengan kegiatannya meliputi :

  1. Pengawasan pengelola jasa boga
  2. Penelusuran dugaan kasus keracunan makanan
  3. Food security pada jasa boga
  4. pemeriksaan sample makanan
  5. pengawasan apotik, toko obat, pengobatan tradisional.

Dan saat ini UPT Gudang Farmasi telah memiliki mobil box untuk mobilisasi obat-obatan ke Puskesmas dalam rangka mengantisipasi kekurangan obat-obatan di Puskesmas.

BAB V

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN KOTA BATAM

CHAPTER V
SUMBER DAYA situation HEALTH CITY BATAM

Program Pembangunan Kesehatan Nasonal diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut penyediaan sarana kesehatan yang sesuai kebutuhan merupakan hal yang penting. Pemekaran wilayah kota Batam secara langsung telah mempengaruhi infrastruktur secara kwantitas dalam menunjang wilayah yang dimekarkan. Salah satu yang terkena dampaknya adalah sektor kesehatan khususnya sumber daya baik sarana maupun prasarana yang merupakan aset pemerintah daerah, seperti ketersediaan RSUD, Puskesmas, Pustu, Polindes. Berdasarkan pertumbuhan penduduk kota yang cukup tinggi dan terjadinya pemekaran wilayah maka harus diimbangi dengan pesatnya pembangunan bidang kesehatan, salah satu ditandai oleh semakin meningkatnya peran pemerintah dalam penyediaan saran dan prasarana kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat .

5.1.SARANA KESEHATAN

Sarana kesehatan adalah salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pembangun kesehatan, karena sarana kesehatan mampu menunjang berbagai upaya pelayanan kesehatan baik pada tingkat individu maupun masyarakat. Bila Dilihat dari Jumlah penduduk Kota Batam kondisi 31 Desember 2009 berjumlah 913.843 jiwa menunjukkan bahwa berdasarkan situasi saat ini Sumber Daya Kesehatan seperti rasio fasilitas kesehatan pemerintah di Kota Batam belum memenuhi secara kwantitas, namun dengan adanya sarana kesehatan dari pihak swasta seperti RS. Swasta, Balai Pengobatan/klinik, BPS dan lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan fasilitas kesehatan, pemerataan dan jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kota Batam.

Sarana kesehatan pemerintah yang ada di Kota Batam  meliputi RSOB,  RSUD, Puskesmas, Pustu, Polindes, Puskesmas keliling darat dan laut, sarana upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) dan sarana kesehatan swasta menunjang sarana kesehatan pemerintah untuk pemerataan pelayanan kesehatan di Kota Batam yang mencakup RS. Swasta, Balai Pengobatan, Rumah Bersalin, BPS, Apotik, Toko Obat dan pedagang besar farmasi.

5.1.1.  RUMAH SAKIT

Rumah sakit di Kota Batam baik yang dikelola oleh Pemerintah maupun swasta sampai  tahun 2009 berjumlah 14 unit yang terdiri dari 2 RS pemerintah yaitu RSUD & RSOB,  dan 12 RS swasta yang tersebar di Kota Batam dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Kota Batam.

5.1.2.PUSKESMAS

Tahun 2009 jumlah Puskesmas yang telah beroperasi sebanyak 13 Puskesmas yang terdiri dari Puskesmas rawat jalan 10 unit  dan  Puskesmas  rawat inap 3 unit. Puskesmas merupakan sarana kesehatan umum dengan rasio 1 : 30.000 penduduk. Penyebaran penduduk di Kota Batam belum merata, sehingga masih ada 3 (tiga) Kecamatan yang membutuhkan 1-2 unit Puskesmas di wilayah kerjanya. Untuk itu pembangunan Puskesmas guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pelayanan kesehatan masih diperlukan.

5.1.3.PUSTU dan PUSKEL

Puskesmas Pembantu berfungsi sebagai perpanjangan tangan Puskesmas memberikan pelayanan kepada masyarakat, tahun 2009 ini di Kota Batam Puskesmas pembantu  bertambah 2 pustu sehingga menjadi 49 unit yang tersebar dibeberapa kelurahan. Sesuai pedoman yang ada rasio 1 pustu : 3000 penduduk, begitu juga dengan Puskesmas Keliling sebagai sarana transportasi penunjang pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh Puskesmas, saat ini yang masih beroperasional  berjumlah  38 unit  terdiri dari Puskel darat  (roda 4) : 16  unit dan  puskel laut (perahu bermotor) : 19 unit yang tersebar di 13 Puskesmas, di RSUD memiliki 1 Puskel darat, serta Dinas Kesehatan juga memiliki 1 puskel laut (perahu bermotor) dan 1 Puskel darat ,yang dimanfaatkan untuk kegiatan supervisi, bimbingan tekhnis ke pulau-pulau  dan didaerah hinterland.

5.1.4.POLINDES/POSKESDES

Idealnya setiap desa/kelurahan memiliki 1 Polindes, dengan rasio 1 : 2500 penduduk, dalam rangka memudahkan jangkauan pelayanan kesehatan terutama program kesehatan ibu dan anak bagi masyarakat. Saat ini Kota Batam sudah memiliki polindes/Poskesdes sejumlah 30 unit yang tersebar dibeberapa kelurahan, bila dilihat dari jumlah kelurahan yang ada di Kota Batam sebanyak 64 kelurahan, keberadaan polindes pada setiap kelurahan masih perlu penambahan guna mendukung program desa siaga sehingga  berdaya guna optimal.

5.2.SARANA  KESEHATAN BERSUMBER DAYA SWASTA/ MASYARAKAT

Pembangunan Kesehatan merupakan tanggung jawab dari Pemerintah, swasta dan masyarakat, agar dapat terwujud derajat kesehatan yang optimal. Fasilitas kesehatan yang berbasis masyarakat yang dikenal dengan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) merupakan bentuk peran serta aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan, seperti Posyandu, Usaha Kesehatan Kerja (UKK), Pondok bersalin Desa (Polindes)/Pos kesehatan Desa (Poskesdes), Pos Obat Desa (POD). Adapun sarana kesehatan bersumber daya swasta adalah Balai Pengobatan umum/khusus, BPS, Pengobatan Tradisional (BATRA), Rumah  Bersalin (RB) dan lain-lain.

5.2.1.   POSYANDU

Posyandu merupakan bentuk UKBM yang paling dikenal dan sudah cukup memasyarakat dan diakui telah memberi kontribusi yang besar dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat terutama kesehatan ibu dan anak.

Posyandu merupakan suatu wadah milik masyarakat sebagai wujud partisipasi masyarakat dibidang kesehatan, yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat dengan pelayanan minimal melaksanakan 5 program pokok yaitu Kesehatan Ibu dan Anak,  Perbaikan Gizi, Keluarga Berencana, Imunisasi, KIA dan Penanggulangan Diare.

Saat ini dalam perkembangannya yang terdiri dari 4 strata yaitu Pratama, Madya, Purnama, Mandiri. Tingkat pertumbuhan posyandu di Kota Batam secara kuantitas cukup menggembirakan dimana pada tahun 2007 berjumlah 261 unit, dan pada tahun 2008 berjumlah 273 unit dan tahun 2009 ini berjumlah 295 unit mengalami kenaikan sebesar (0,92%) tersebar di 64 kelurahan dalam wilayah kerja Kota Batam.

Gambar …..  JUMLAH POSYANDU MENURUT KECAMATAN

DI KOTA BATAM TAHUN 2008-2009

Sumber : Bidang Kesga, Promkes, Gizi Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : Family health sector Batam Health office

Terlihat pada gambar diatas, bahwa di wilayah kerja Puskesmas Sekupang terjadi penurunan, hal ini karena pemekaran wilayah kecamatan dan telah beroperasinya Puskesmas Batu Aji, sehingga ada beberapa Posyandu yang masuk binaan Puskesmas Sekupang di tahun 2008 dan pada tahun 2009 di bina oleh Puskesmas Batu Aji.

Peningkatan Posyandu secara kwantitas juga bersinergi dengan kwalitas Posyandu, hal ini terlihat dari meningkatnya strata di beberapa Posyandu pada tahun 2009 dibanding tahun 2008.

Gambar 33.       PERKEMBANGAN POSYANDU MENURUT STRATA

DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber : Bidang Kesga, Promkes, Gizi Dinas Kesehatan Kota Batam

Source   : Family health sector Batam Health office

Bentuk lain dari peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan adalah desa/kelurahan siaga. Saat ini seluruh kelurahan yang berjumlah 64 telah menjadi kelurahan siaga, kader dan tokoh masyarakatnya telah dilatih untuk menggerakkan kelurahan siaga. Tingkat perkembangan kelurahan siaga sudah terbentuk sejak tahun 2006 yaitu dikelurahan Batu Besar Kec. Nongsa, tahun 2007 menjadi 12 kelurahan dimana hampir setiap kecamatan telah dibentuk kelurahan siaga dan pada tahun 2009 100% kelurahan siaga dan 5 kelurahan sudah aktif dalam kegiatan kelurahan siaga, hal ini menunjukkan secara perlahan-lahan adanya peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan dalam kehidupan.

5.2.2.  BP, RB , PRAKTEK DOKTER/ BPS

Bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat yang dikelola oleh pihak swasta berupa Balai Pengobatan dengan jumlah 174  unit terbagi atas BP Umum 171 unit dan BP gigi 3 unit, sedangkan  Rumah Bersalin (RB) jumlahnya 63 unit, Bidan Praktek Swasta perorangan yang terdaftar 223 BPS, angka ini meningkat (0,96%), dari tahun 2008, begitu juga Praktek Dokter Perorangan 393 orang mengalami peningkatan (0,56%), hal ini menunjukkan adanya peningkatan peran serta pelayanan kesehatan dari pihak swasta.

5.2.3.  PENGOBATAN ALTERNATIF

Pengobatan alternatif merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat non medis, saat ini pengobatan alternatif yang telah terdaftar di Dinas Kesehatan Kota Batam berjumlah 104 unit yang tersebar dibeberapa kecamatan di Kota Batam.

5.2.4.   APOTIK/ TOKO OBAT

Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya yang menunjang pelayanan kesehatan pada tingkat lanjutan seperti apotik dan toko obat, pad atahun 2009 berjumlah 76 unit apotik dan  173 unit jumlah toko obat, banyaknya apotik dan toko obat yang ada di Kota Batam menunjukkan peningkatan yang cukup berarti, debngna kata lain sarana tersebut dapat membantu meningkatkan pelayanan kesehatan dalam hal obat-obatan bagi masyarakat.

Perkembangan keberadaan sarana kesehatan baik pemerintah maupun swasta di Kota Batam tahun tahun 2006-2009, seperti pada tabel berikut ini.

TABEL 1.     DISTRIBUSI SARANA KESEHATAN DI KOTA BATAM TAHUN 2009.

JENIS SARANA 2006 2007 2008 2009
RUMAH SAKIT 12 12 13 14
PUSKESMAS 11 12 12 13
PUSTU 37 43 47 49
PUSKEL DARAT 13 14 16 18
PUSKEL LAUT 14 16 19 20
POLINDES/POSKESDES 26 27 36 30
POSYANDU 230 261 273 295
BALAI PENGOBATAN UMUM 98 134 157 174
BALAI  PENGOBATAN GIGI 1 1 1 1
RUMAH BERSALIN 35 43 57 63
APOTEK 54 65 75 76
PEDAGANG BESAR FARMASI 3 19 0 27
TOKO OBAT 162 171 188 173

Sumber      : Bidang Yankesfar Dinas Kesehatan Kota Batam

Sourse       :

5.3. TENAGA KESEHATAN

Tenaga kesehatan merupakan kekuatan yang menggerakkan roda pembangunan di bidang kesehatan. Terlaksananya pelayanan kesehatan yang optimal sangat dipengaruhi tenaga kesehatan baik kwalitas maupun kwantitasnya. Jumlah tenaga kesehatan berdasarkan jenis ketenagaan baik yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta terlihat seperti pada gambar berikut :

Gambar 23.   JUMLAH TENAGA KESEHATAN BERDASARKAN JENIS

KETENAGAAN DI KOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber  : Bidang Program Dinas Kesehatan Kota Batam.

Source   :

Jumlah tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di hitung dalam bentuk rasio. Rasio tenaga kesehatan merupakan ketersediaan tenaga kesehatan secara kwantitas dibandingkan dengan 100.000 jiwa penduduk.

Berdasarkan jumlah penduduk Kota Batam tahun 2009 dengan rasio masing-masing jenis ketenagaan masih ada tenaga kesehatan yang belum memadai seperti apoteker, bidan, kesmas, nutrisionis dan sanitarian. Adapun rasio tenaga kesehatan per 100.000 penduduk tahun 2009 seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 33.   RASIO TENAGA KESEHATAN PER 100.000 PENDUDUK

DIKOTA BATAM TAHUN 2009

Sumber  : Bidang Program Dinas Kesehatan Kota Batam.

Source   :

Peningkatan SDM kesehatan terutama dari pihak pemerintah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas yang ditempatkan pada sarana kesehatan adalah dalam rangka terlaksananya pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Berikut adalah kondisi tenaga kesehatan dilingkungan Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2009.

TABEL 2.      DISTRIBUSI TENAGA KESEHATAN

DILINGKUNGAN DINAS KESEHATAN KOTA BATAM TAHUN  2009

UNIT KERJA TAHUN 2008 TAHUN 2009
CPNS/PNS PTT/THL Total CPNS/PNS PTT/THL Total
Dinkes 79 10 89 81 3 84
RSOB 23 0 23 15 0 15
RSUD 136 12 148 148 10 158
Gudang Farmasi 6 3 9 9 0 9
PKM Sekupang 38 2 40 49 0 49
PKM Sei.Lekop 25 2 27 21 1 22
PKM Sei Panas 51 4 55 45 1 46
PKM Tg. Sengkuang 19 4 23 19 2 21
PKM Lubuk Baja 28 3 31 28 2 30
PKM Baloi Permai 23 3 26 34 1 35
PKM Sei Pancur 37 2 39 32 3 35
PKM Sambau 32 4 36 28 2 30
PKM Belakang Padang 27 9 36 21 13 34
PKM Galang 25 11 36 21 20 41
PKM Bulang 18 4 22 11 8 19
PKM Kabil - - - 25 3 28
PKM Batu Aji - - - 24 0 24
Total 567 73 640 611 69 680

Sumber : Sub.Bag. Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota Batam

Source : The Employment Sub, Batam Health Office

Berdasarkan tabel diatas, terjadi peningkatan jumlah tenaga kesehatan yang bekerja di instansi pemerintah sebanyak 37 orang, dengan status kepegawaian terdiri dari PNS/CPNS, THL/PTT. Adapun jenis ketenagaannya dalah sebagaimana pada tabel berikut  dibawah ini :

TABEL 3.      JUMLAH & PROPORSI TENAGA YANG BEKERJA DIUNIT KESEHATAN MENURUT 8 KATEGORI TENAGA JABATAN FUNGSIONAL KESEHATAN DI LINGKUNGAN DINAS KESEHATAN KOTA BATAM TAHUN 2009

NO JENIS TENAGA PNS PTT THD JUMLAH
1 MEDIS 106 12 0 151
2 PERAWAT &  BIDAN 299 38 6 593
3 FARMASI 27 0 2 29
4 GIZI 13 0 1 14
5 KESEHATAN MASYARAKAT 21 0 0 21
6 SANITASI 23 0 0 23
7 TEKNIS LAIN 20 0 2 22
8 TENAGA LAINNYA 51 0 10 61
JUMLAH 610 50 20 680

Sumber : Sub.Bag. Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota Batam

Source  : The Employment Sub, Batam Health Office

5.3.1.PEMBIAYAAN KESEHATAN

Alokasi anggaran untuk program pembangunan kesehatan Kota Batam dua tahun terakhir ini cenderung meningkat walaupun masih jumlah dana yang ada masih terbatas, untuk itu perlu dibuat skala prioritas kegiatan/program yang paling dibutuhkan masyarakat baik di Dinas Kesehatan Kota Batam, RSUD Kota Batam maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang telah mempunyai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sendiri dalam mengelola, merencanakan dan melaksanakan sendiri sesuai kebutuhannya masing-masing.  Pada tahun 2009 ini APBD Kota Batam Bidang Kesehatan totalnya  Rp. 103.169.216.548,- yang yang terdiri dari :

  • Alokasi Dinkes Kota Batam                    Rp. 30.897.226.175,-
  • Alokasi RSUD Kota Batam                     Rp. 39.022.660.240,-
  • Alokasi Puskesmas se-Kota Batam          Rp. 32.422.374.065,-
  • Gudang Farmasi                                   Rp.      826.956.068,-

Adapun pendanaan pembangunan kesehatan di Kota Batam juga bersumber dana dari APBD Propinsi dan APBN dari Pusat.

BAB VI

PENUTUP

CHAPTER VI

CONCLUTION

Beberapa program yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Batam pada tahun 2009 telah menunjukkan adanya peningkatan infrastruktur berupa pembangunan sarana kesehatan maupun rehabilitasi sarana prasarana kesehatan dan program kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Batam. Bila dilihat hasil dari pembangunan kesehatan  selalu mengalami fluktuasi akibat pertumbuhan penduduk, seperti pembangunan sarana kesehatan bedasarkan kebutuhan masyarakat yang dilihat dari jumlah penduduk.

Derajat kesehatan masyarakat seperti mortalitas, morbiditas, status gizi dan usia harapan hidup tahun 2009 merupakan gambaran upaya pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan. Penurunan angka kesakitan pada sebagian besar penyakit merupakan hasil dari upaya pengendalian beberapa kasus penyakit menular, peningkatan status gizi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil yang telah dicapai juga tak lepas dari sumber daya manusia sebagai pemberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat baik pihak pemerintah maupun pihak swasta serta partisipasi masyarakat. Meningkatnya derajat kesehatan yang menunjukkan tingkat kesejahteraan begitu juga dengan aspek kehidupan lainnya seperti aspek sosial ekonomi masyarakat.

Tahun 2009 masih ada beberapa program kesehatan yang belum memenuhi target berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM), hal ini dipengaruhi banyak faktor, diantaranya adalah sistem pencatatan dan pelaporan (Recording & Reporting) yang masih belum optimal sehingga hasil yang tercatat dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan sebagai koordinator pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan tidak optimal. Penataan dan peningkatan koordinasi dari lintas program baik pemerintah maupun pihak swasta serta lintas sektor baik dalam pelaksanaan program-program kesehatan maupun dalam pencatatan dan pelaporan menuju suatu sistem yang optimal harus tetap ditingkatkan sehingga hasil yang diharapakan dapat tercapai sesuai dengan kenyataan.

Sistem pencatatan dan pelaporan satu pintu yang diharapkan pada tahun berikutnya memerlukan komitmen bidang-bidang program yang ada di Dinas Kesehatan Kota Batam serta mendapatkan data yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan dari semua lini kesehatan seperti Puskesmas dan jajarannya, rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya, sehingga profil kesehatan Kota Batam tahun 2010 dapat menyajikan data yang akurat, valid dan terpercaya, untuk selanjutnya dapat dijadikan dasar yang evidence base dalam perencanaan pembangunan dimasa datang.

Kami dari team penyusun profil kesehatan Kota Batam mengucapkan terima kasih kepada semua pihak baik Puskesmas maupun Rumah Sakit dan pengelola sarana kesehatan lainnya serta pihak terkait yang telah mengirimkan data dan informasi sehingga terbitnya profil kesehatan Kota Batam Tahun 2009. Kepada seluruh instansi kesehatan, kami menghimbau untuk selalu berpartisipasi dan meningkatkan sistem data dan informasi sebagai perbaikan manajemen kesehatan yang berkualitas dan terpercaya dimasa datang.

Semoga dengan terbitnya profil kesehatan Kota Batam tahun 2009 ini dapat memberikan gambaran tentang perkembangan situasi derajat kesehatan masyarakat Kota Batam yang telah kita laksanakan bersama dengan kemitraan serta bermanfaat bagi kita semua dan untuk masa yang datang.





Ubah ke tampilan mobile