Berita Terbaru

DINAS KELAUTAN, PERIKANAN, PERTANIAN DAN KEHUTANAN


BANTUAN SAPI APBN 2013, SUKSES

sapi1Belum genap 1 tahun usia bantuan sapi yang di berikan pemerintah pusat melalui Dana Konsentrasi dan Tugas Pembantuan, APBN 2013, sekarang telah menampakkan hasil. 5 ekor dari 36 ekor sapi telah hamil.

Tahun 2013 lalu, pemko batam mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat melalui dana konsentrasi dan tugas pembantuan, APBN 2013 berupa 36 ekor sapi. Sapi ini diberikan kepada kelompok peternak lembu jaya, Desa Tanjung Kubu Kelurahan Bulang Lintang, Kecamatan Bulang. Dari 36 ekor sapi ini, 5 diantaranya telah hamil. Hal ini diakui oleh Kabid Peternakan Dinas Kelautan Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Batam Soemarlan, saat melakukan monitoring dan evaluasi bersama utusan dari Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Keswan Kementrian Pertanian Jumat lalu(19/9/2014). Soemarlan mengatakan Bantuan sapi dari pemerintah Pusat ini tergolong berhasil. “saat diberikan tahun lalu, sapi-sapi ini berusia 2 tahunan. Alhamdulillah, sekarang 5 sudah bunting.” Ia mengharapkan para peternak memperhatikan kesehatan, makanan , dan suplemen seta obat-obatan yang diperlukan sapi-sapi tersebut.

Narasi dan Gambar: Indri Khairiyah


Kadis KP2K Batam Tinjau UPI

pro ikan222

pro ikan333

pro ikan444

prod ikan 111

Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam, drh. Suhartini, MM melakukan peninjauan ke salah satu Unit Pengelolaan Ikan (UPI) di Kota Batam jumat kemarin (12/9/2014). Peninjauan ini dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat agar terbebas dari bahan kimia berbahaya. Dari hasil labolatorium, 18 produk olahan berbahan dasar ikan, kepiting, dan sotong ini aman dari Formalin, Rhodamin, dan Boraks.


KRB Resmi di Bangun

Pembangunan proyek Kebun Raya Batam resmi berjalan., Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto meresmikan pembangunan ground breaking Kebun Raya Batam (KRB) di Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (28/8) siang.
KRB ini, dibangun dengan standar internasional di atas lahan seluas 86 hektar dan menelan anggaran sebesar Rp21 miliar.
Dalam sambutannya, Djoko Kirmanto mengatakan, Lahan Kebun Raya Batam yang luasannya hampir sama dengan Kebun Raya Bogor itu diharapkan mampu menjadi salah satu kebun raya berstandar internasional di Indonesia . Selain itu, kehadiran KRB diharapkan menjadi penyeimbang kawasan industri dan komersial yang tumbuh pesat di Kota Batam.

“Tahun 2014 ini, KRB dibangun dengan dana APBN Kementrian PU sebesar Rp21 miliar, di atas lahan seluas 86 hektar. Anggaran tersebut dititikberatkan pada zona penerimaan fasilitas yang akan dibangun,” kata Djoko.

Ia menjelaskan pembangunan KRB nantinya meliputi gerbang utama, jalan, pedestrian, taman, gedung pengelola, rumah kaca serta sarana dan prasarana lainnya. Tahun 2015 akan dikembangkan zona koleksi yang meliputi landscape kawasan, guest house dan infrastruktur pendukung lainnya, selain itu juga akan dibangun waduk yang akan menjadi pembatas antara zona penerima dan zone koleksi.
Di tempat yang sama, Wakil Kepala LIPI, Jusman Sayuti mengatakan, kebun raya sangat penting untuk melestarikan lingkungan. Ia mengatakan, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang mencapai 10 persen total kekayaan yang ada di dunia. Namun, kekayaan itu terus berkurang, seiring dengan kerusakan hutan yang terjadi di beberapa daerah.

Peneliti LIPI untuk Kebun Raya Batam, Hartuningsih Siregar mengatakan, kebun raya yang dikelolanya mengkhususkan untuk konservasi tumbuhan dari pulau-pulau kecil pesisir. Pihaknya sudah mulai eksplorasi untuk mengumpulkan tumbuhan pesisir di Kepri sejak 2013. Dan hingga saat ini sudah terkumpul 369 jenis hayati dan jumlah pohon 5.170 spesies.


Peletakan Batu Pertama KRB

kbr2
Gubernur Kepri HM Sani, , Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, Kepala BP Batam Mustofa Widjaja, Wakil Kepala LIPI Djusman Sayuti, dan Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, saat acara peletakan batu pertama di lahan Kebun Raya Batam seluas 86 hektar di kawasan Sambau, Nongsa (Kamis 28/8/2014).


INFORMASI: SAMPEL PANGAN ASAL HEWAN

Konsumsi akan Pangan Asal Hewan di Kota Batam meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan ini, pelaku usaha yakni distributor maupun importir menyuplai produk asal hewan yang berasal dari berbagai daerah dan Negara, seperti daging ayam beku dan daging sapi beku serta turunannnya. Untuk menjamin kesehatan pangan asal hewan tersebut, Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam melalui Bidang Peternakan telah melakukan pengambilan sampel daging untuk dilakukan pengujian spesimen. Ada beberapa pengujian yang dilakukan terhadap daging tersebut. Untuk daging ayam dan bebek beku dilakukan beberapa uji yaitu Uji Mikrobiologi (Uji TPC (total plate colony), Escherichia Choly dan Salmonella); Uji Screening Residu Antibiotic; Uji Awal Pembusukan dan Uji Formalin. Untuk daging sapi dilakukan beberapa pengujian yaitu: Uji Mikrobiologi (Uji TPC dan Echerichia Choly); Uji Screening Residu Antibiotic; Uji Awal Pembusukan dan Uji Formalin dan Uji Hormon.
Sampel yang telah diambil kemudian dikirim ke balai yang berkompeten melakukan pengujian. Untuk Regional Sumatera, pengujian dilakukan di Balai Veteriner Bukittinggi, Sumatera Barat. Selanjutnya Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam akan menerima Hasil Pengujian Spesimen. Hasil ini akan didistribusikan kepada distributor dan importir yang telah di ambil sampel. Untuk tindak lanjut terhadap hasil yang berpotensi mengandung bakteri maupun kandungan kimia yang berbahaya, dinas akan dilakukan penghentian pemasaran sementara.

Editor: Indri


INSEMINASI BUATAN (IB) PADA SAPI

Meningkatnya kebutuhan daging sapi di Kota Batam, berimbas pada berkurangnya populasi ternak sapi, terlebih pada Hari Raya Idul Adha. Guna meningkatkan populasi ternak sapi di Kota Batam, Pemerintah Kota, dalam hal ini Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam menerapkan teknologi reproduksi dengan cara inseminasi buatan.
Profesi Pengembang sapi di Kota Batam sangat diminati oleh masyarakat Kota Batam khususnya yang berdomisili di Hinterland. Adapun lokasi pengembangan sapi yang telah dialokasikan oleh Pemerintah Kota Batam yaitu di Kepala Jeri Kelurahan Kasu Kecamatan dengan Populasi Sapi 77 ekor, Tanjung Kubu Kelurahan Bulang Lintang Kecamatan Bulang dengan Populasi 52 ekor, Air Raja, Karas, Rempang cate dan Kecamatan Galang dengan Populasi 88 ekor sehingga total ternak sapi yang dikembangkan di Kota Batam berjumlah 217 ekor.
Populasi tersebut diatas tidak merepresentasikan keberhasilan usaha pengembangan Ternak Sapi di Kota Batam. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pejantan yang dapat mengawini secara alami sehingga dipandang perlu Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perikanan, Kelautan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam mencoba menerapkan teknolgi reproduksi dengan cara Inseminasi Buatan. Dengan inseminasi Buatan (IB) diharapkan dapat mengatasi salah satu masalah reproduksi ternak. Selain itu diharapkan dengan IB akan menghasilkan ternak unggul yang berasal dari bibit / semen pejantan unggul yang diproduksi oleh Balai Inseminasi Buatan Padang.
Pelaksanaan IB di Kota Batam diharapkan dapat meningkatkan produksi / populasi ternak sapi untuk memenuhi kebutuhan ternak sapi yang pada saat ini masih dipasok dari luar Kota Batam. Kebutuhan Ternak sapi di Kota Batam khususnya untuk Hari Raya Idul Adha sangat tinggi terlihat dari ternak sapi jantan yang terdapat dipenampungan ternak di Kawasan Terpadu Pertanian Sei Temiang dan tempat-tempat penampungan sementara di Kota Batam.

Editor: Indri


DINAS KP2K BATAM MUSNAHKAN DAGING AYAM DAN JEROAN IMPOR ILEGAL

23 Juni 2014
<a

Bidang Peternakan Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam memusnahkan 471 kg ayam impor dan jeroan impor illegal yang di duga berasal dari Brazil dan Amerika Serikat. Pembakaran ini di lakukan di Rumah Potong Hewan, Temiang hari jumat lalu (20/6).
Kepala Bidang Peternakan, Saprial, S. Pi, MT mengatakan ayam dan Jeroan impor illegal ini merupakan hasil sidak Bulan Februari lalu dari beberapa pasar seperti Tos 3000, Pinuin, Avava, Mitra Raya, Sagulung, dan Aviari. “ Sesuai dengan Permentan no 84 Tahun 2013 Tentang Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, dan Bahan Olahan Lain dari Luar Negeri ke Indonesia, maka yang diperbolehkan masuk hanya daging/ jeroan yang berasal dari Australia dan New Zealand saja”. Saprial menambahkan, artinya Selain dari 2 negara tersebut, daging impor yang masuk ke Indonesia di sebut illegal. Pihaknya mengkhawatirkan daging ayam impor ini tidak berlabel halal, terlebih jeroan yang sebagian besar dari Amerika Serikat ini bukan untuk konsumsi manusia, melainkan hewan, namun begitu masuk ke Indonesia, jeroan ini diperuntukkan bagi manusia.
Sementara itu Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Samuel Tampubolon mengatakan, temuan daging ayam dan jeroan impor ini, antara lain berupa paha ayam impor, sayap ayam impor, dada ayam impor, babat dan paru impor. Samuel mengatakan pihaknya selalu mengadakan sidak pasar setiap bulan, semakin menjelang bulan ramadhan, pihaknya semakin waspada karena biasanya banyak ditemukan daging impor ilegal, dan daging oplosan.

Editor: Indri


Bidang Kelautan

Berita





Ubah ke tampilan mobile