BAB III

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSINYA

3.1 IDENTIFIKASI MASALAH BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN SKPD

Untuk lebih memfokuskan strategis Dinas Tenaga Kerja Kota Batam dalam pencapaian visi dan misi secara efektif dan efisien, diperlukan analisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dengan menghitung nilai-nilai yang berkembang dalam organisasi serta situasi dan kondisi.

Analisis terhadap lingkungan internal dan eksternal organisasi merupakan hal yang sangat penting, dalam rangka menentukan faktor-faktor kunci sebagai penentu keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Lingkungan internal organisasi dan lingkungan eksternal organisasi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja organisasi, lingkungan internal pada umumnya dapat dikendalikan secara langsung, sedangkan lingkungan eksternal cenderung diluar kendali.

Dalam merumuskan lingkungan strategis tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor penentu keberhasilan yang internal (kewenagan SKPD) dan faktor ekternal (diluar kewenangan SKPD).

ANALISIS FAKTOR INTERNAL

      1. Skill ( keahlian ) pencari kerja yang lebih rendah , tidak sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan.

      2. Adanya pembatasan umur maksimal dari perusahaan dalam menerima karyawan.

      3. Sebagian besar perusahaan mendatangkan tenaga kerja AKAD untuk memenuhi kebutuhan perusahaanya.

      4. Tidak semua pencari kerja dan perusahaan melaporkan penempatannya ke Disnaker Kota batam, sehingga akan mempengaruhi data tenaga kerja yang ditempatkan karena pada kenyataannya jika ada lowongan perusahaan agak sulit untuk mencari tenaga kerja khususnya wanita.

      5. Penyebaran informasi pasar kerja yang belum maksimal, dikarenakan dalam pengurusan kartu kuning sudah tersebar dibeberapa kecamatan , tidak lagi terpusat di kantor Dinas tenaga kerja Kota batam sehungga informasi lowongan tidak sampai kepada para pencari kerja.

      6. Masih banyaknya terjadi pelanggaran Undang-Undang ketenagakerjaan, antara lain seperti tidak terpenuhinya syarat-syarat berdiri suatu perusahaan, kurang terbinanya hubungan Industrial dan perlindungan tenaga kerja di suatu perusahaan yang berdampak kepada timbulnya Perselisihan Hubungan Industrial dan Pemutusan Hubungan kerja,dampak dari kurangnya pembinaan dan lemahnya sistim pengawasan dan monitoring dari Dinas Tenaga Kerja Kota Batam ke Perusahaan-Perusahan.

      7. Banyak terjadi dimulainya hubungan kerja yang kurang jelas / tidak dengan melalui ikatan kerja dalam bentuk perjanjian tertulis, perlu adanya ikatan kerja secara tertulis dan dicatatkan ke Instansi yang membidangi ketenagakerjaan.

      8. Kontrak kerja yang dilakukan secara berantai (sub-sub kontrak )

      9. Sering beralihnya pekerja dari perusahaan sub kontraktor ke perusahaan sub kontraktor lainnya didalam satu perusahaan (main kontraktor)

      10. Perusahaan pemberi kerja dan penerima kerja tidak melaporkan perjanjian kerjanya ke Dinas Tenaga Kerja

      11. Upah Sektoral,Undang-undang/Peraturan yang tidak memberikan ukuran tertentu mengenai upah sektoral,dan besaran upah sektoral melalui kesepakatan yang sepenuhnya dilakukan kepada pihak pekerja (serikat sektor) dengan pengusaha (melalui organisasi pengusaha usaha sektor )

      12. Pembahasan UMK oleh Dewan Pengupahan dan kemudian diusulkan kepada Gubernur, sering menimbulkan gejolak sehingga dapat mengganggu investasi.

      13. Perbedaan persepsi mengenai pekerjaan pokok dengan pekerjaan penunjang, sebaiknya pihak perusahaan dengan pekerja menentukan jenis pekerjaan pokok dengan pekerjaan penunjang dibuat secara tertulis.

      14. Jumlah tenaga mediator yang masih kurang, banyak tenaga mediator yang pidah ke dinas /badan/kantor dilingkungan Pemerintah kota batam yang diangkat menjadi pejabat (dapat eselon) disana.

ANALISIS FAKTOR EKTERNAL

  1. Letak geografis Kota Batam yang strategis serta dikembangkannya Batam sebagai daerah industri, perdagangan dan pariwisata mengakibatkan Banyaknya tenaga kerja mencari pekerjaan.

  2. Untuk menjamin konsistensi pengawasan di bidang ketenagakerjaan diperlukan regulasi berdasarkan kondisi daerah melalui pembuatan peraturan daerah Kota Batam.

  3. Ratio jumluh penduduk di Kota Batam , jika dibandingkan dengan Jumlah tenaga kerja yang ada sangat rendah.

  4. Dana yang menjadi pendapatan negara bukan pajak hanya bisa turun ke daerah yang punya Balai Latihan Kerja.sungguh ironis rasanya Daerah free trade zone dan Daerah industri dengan penghasilan dari iuran wajib tenaga kerja asing, tapi tidak bisa menikmati dana Peningkatan Keahlian dan Ketrampilan ( DPKK )

  5. Pejabat fungsional yang ada pada Dinas Tenaga Kerja Kota Batam tidak pernah diberikan Pemerintah kota Batam jadi bagian untuk menjalankan fungsi pengawasan secara baik.

  6. Tenaga Kerja Asing implikasinya tenaga pendamping yang harus disiapkan, yang terjadi tenaga kerja asing selalu bertambah dan posisi mereka tidak juga tergantikan khususnya untuk posisi-posisi tertentu, sehingga posisi welderpun masih diisi tenaga kerja asing.

Sedangkan dalam RPJMD Kota Batam mempunyai potensi dan permasalahan sebagai berikut :

  1. Letak Kota Batam secara geografis sangat strategis karena berada di jalur pelayaran internasional. Singapura dan Malaysia yang berada di sebelah utara Kota Batam sangat terkait dengan posisi tersebut. Posisi ini menjadi unik bagi Kota Batam yang membedakan dengan daerah lain di Indonesia. Kota Batam beriklim relatif panas, berbukit dan memiliki cadangan air baku yang cukup baik. Ancaman bencana relatif rendah. Umumnya berupa banjir, longsor, abrasi dan sebagian ada sesar di Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru. Sekitar 45,6% dari luas wilayah Kota Batam adalah berupa kawasan lindung.

  1. Kota Batam yang berpulau-pulau merupakan tantangan tersendiri bagi upaya peningkatan aksesibilitas antar wilayah dalam hal pelayanan pemerintah dan juga pergerakan penduduk.

  1. Secara nasional, Kota Batam memiliki posisi strategis, yaitu sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas atau sebagai Free Trade Zone yang dikelola secara Khusus. Untuk mendukung itu, suatu sistem pelabuhan bebas berskala pelayanan nasional dan internasional dengan dermaga outlet di Pelabuhan Batu Ampar dan Pelabuhan Kabil akan ditingkatkan hirarkinya menjadi “pelabuhan internasional hub” (hub international port). Dengan posisi ini pada dasarnya keberadaan Kota Batam sangat penting secara nasional. Pengelola Kawasan (otorita) menjadi potensi kemitraan penting dalam pembangunan Kota Batam di masa yang akan datang.

  1. Pertumbuhan penduduk Kota Batam sangat tinggi dan terdiri multi etnis, diantaranya adalah dorongan migrasi masuk. Namun demikian sebaran penduduk kurang merata dan terpusat di Pulau Batam. Pertumbuhan seperti ini akan mendorong peningkatan kebutuhan perumahan dan permukiman serta potensi ancaman meningkatkan permukiman kumuh di Kota Batam, terutama di wilayah yang padat penduduknya. Situasi ini dapat mengarah pada pertumbuhan Kota yang tidak terkendali.

  1. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan. Kegiatan ekonomi dominan di Kota Batam adalah sektor industri pengolahan (60%).Kegiatan sektor ini umumnya berada di area khusus (bukan industri rakyat kebanyakan) dan bersifat ekslusif. Hasil industri pengolahan umumnya dipasarkan di luar Kota Batam. Proporsi sektor industri ini cenderung mengalami penurunan. Sektor perdagangan, hotel dan restoran cenerung memberikan kontribusi semakin meningkat.

  1. Tingkat inflasi di Kota Batam relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat inflasi Kota Pekanbaru dan Nasional. PDRB per kapita Kota Batam sangat besar bila dibandingkan dengan Provinsi Kepri dan Nasional, yang mengindikasikan tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

  1. Kondisi infrastruktur jalan di Kota Batam hingga tahun 2009 sekitar 84% telah diaspal. Terus dilakukan perbaikan setiap tahun, hingga tahun 2009, jalan dalam kondisi baik telah mencapai 78,1%.

  1. Lalu lintas barang penumpang sangat penting bagi perekonomian dan kehidupan di Kota Batam. Penumpang pelabuhan domestik dan internasional berfluktuasi, namun sedikit mengalami penurunan. Jumlah lalu lintas kapal barang di pelabuhan domestik menurun

namun di pelabuhan internasional meningkat pada tahun 2009. Penumpang angkutan udara cenderung mengalami peningkatan pesat dalam 10 tahun terakhir, yaitu mencapai 6 kali lipat.

  1. Penyediaan ketenagalistrikan di Kota Batam dikelola oleh PT. PLN Batam untuk wilayah Pulau Batam. Sedangkan untuk wilayah pulau-pulau lainnya seperti di Belakang Padang, Pulau Terong, Pulau Pecung, Pulau Buluh, Pulau Kasu, Pulau Karas, Pulau Sembulang dan Pulau Abang penyediaan ketenagakelistrikan dikelola PT. PLN. Cabang Tanjung Pinang. Sumber tenaga listrik pada umumnya adalah PLTD, yang berbiaya operasi relatif mahal dan sangat bergantung pada BBM. Pada kapasitas sekarang, di masa depan masih sangat dibutuhkan ketersediaan listriknya.

  1. Kerusakan kawasan tangkapan air (catchment area) sebagai akibat perubahan fungsi kawasan hutan konservasi/lindung menjadi kawasan budidaya, rusaknya kawasan hijau (green area), pencemaran lingkungan akibat limbah industri dan usaha hotel, terjadinya perambahan dan pembakaran hutan, serta kerusakan lingkungan akibat penambangan illegal. Menurunnya habitat hutan mangrove yang mengakibatkan berkurangnya daerah asuhan (nursery ground), tempat mencari makan (feeding ground), dan daerah pemijahan (spawning ground) bagi berbagai biota. Buangan limbah industri dan limbah domestik secara langsung atau sembarangan ke media lingkungan juga telah mengakibatkan musnahnya atau menurunnya biota pesisir dan laut/perairan.

  1. Batam menjadi salah satu pintu masuk wisatawan ke Indonesia. Pengunjung terbesar adalah dari Singapura dan Malaysia. Wisata alam dapat menjadi daya tarik Kota Batam, karena Singapura relatif memiliki wisata alam yang memadahi. Pengelolaan obyek wisata yang baik dapat akan mendorong keterkaitan yang kuat dengan ekonomi riil lainnya di Kota Batam.

  1. Tingkat kesejahteraan penduduk tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau dan lebih tinggi daripada Nasional. Persentase penduduk miskin relatif lebih rendah daripada Provinsi Kepulauan Riau dan Nasional. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah ini perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Batam. Pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, pada umumnya kebutuhan untuk aktualisasi diri akan lebih muncul.

  1. Kapasitas keuangan Pemerintah Kota Batam relatif baik bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Indonesia. Potensi pendapatannya juga cenderung meningkat. Belanja langsung proporsinya besar. Berobat ke puskesmas, pendidikan dan KTP gratis merupakan pelayanan langsung bagi seluruh lapisan masyarakat di Kota Batam.

3.2 TELAAHAN VISI, MISI DAN PROGRAM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH TERPILIH

Visi adalah preferensi dan pendekatan Pemerintah Kota Batam dalam hal menyelenggarakan kepemerintahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Visi Pembangunan Kota Batam Tahun 2011–2016:

Terwujudnya Kota Batam sebagai Bandar Dunia Madani yang Modern dan Menjadi Andalan Pusat Pertumbuhan Perekonomian Nasional”

Visi di atas mendudukkan masyarakat Kota Batam sebagai subyek pembangunan dengan tujuan kesejahteraan bangsa, termasuk segenap lapisan masyarakat Kota Batam. Upaya tersebut adalah menjadi tugas aparatur Pemerintah Kota Batam. Di bawah kepemimpinan Walikota, peningkatan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat akan diselenggarakan melalui pemerintahan yang baik dan bersih, serta berpegang pada prinsip-prinsip pemerintah yang dijalankan secara profesional, akuntabel, dan transparan yang mengedepankan partisipasi masyarakat.

Kota Batam terletak di lokasi yang strategis dalam lingkup regional yaitu sebagai salah satu gerbang di wilayah Propinsi Kepulauan Riau dan lingkup internasional karena lokasinya yang berada di perbatasan dan relatif dekat dengan beberapa negara tetangga. Faktor georafis tersebut telah mendorong Kota Batam sebagai “pusat pertumbuhan ekonomi“ sekaligus sebagai pusat kegiatan transit barang (perdagangan) dan penumpang. Fungsi tersebut ditunjang oleh keberadaan sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai untuk melayani pelayaran antar wilayah dan antar pulau, beberapa pelabuhan (komoditi) khusus lainnya, serta bandar udara Hang Nadim yang melayani penerbangan lokal ke beberapa kota besar di Indonesia (dan bahkan internasional). Dinamika arus barang dan penumpang yang cukup tinggi menjadikan Kota Batam diarahkan agar berdampak pada peningkatan aktivitas perdagangan dan aktifitas warga masyarakat di Kota Batam.

Terwujudnya Batam sebagai Bandar Modern Dunia yang Madani dan menjadi Pusat Pertumbuhan Andalan Perekonomian Nasional memberikan pemahaman sebagai berikut :

  1. Kota Batam sebagai Kota yang akan berkembang pesat di masa mendatang, yaitu Kota yang dapat disejajarkan dengan kota besar lainnya. Letak strategis maupun daya dukung adalah salah satu alternatif penetapan Kota Batam sebagai Bandar dunia.

  1. Bandar dunia dalam makna mengarahkan pengembangan dan pembangunan Kota Batam sebagai kota industri, perdagangan, pariwisata dan alih kapal yang kompetitif dan dinamis di kawasan regional Asia Tenggara, serta atraktif bagi pelaku bisnis dalam dan luar negeri. Dalam jangka panjang, Kota Batam diupayakan menjadi suatu kota jasa yang menjadi “center of excellent“, dengan melakukan pendalaman pada fungsi-fungsi yang sudah ada yang ramah lingkungan dengan sentuhan teknologi yang terus berkembang.

  1. Madani adalah tatanan masyarakat yang sopan santun, disiplin dan beradab serta berbudaya tinggi (civilized). Tatanan masyarakat terwujud dalam sopan santun dan beradab dalam mencari jalan keluar melalui musyawarah dalam menghadapi berbagai permasalahan.

  1. Sebagai salah satu pusat pertumbuhan nasional, diharapkan Kota Batam akan memiliki masyarakat yang sejahtera kehidupannya, sumber daya manusia dan generasi muda yang cerdas dan sehat, berbudaya, agamis, berakhlak mulia yang mampu menghadapi kemajuan zaman dan era globalisasi.

Misi adalah deskripsi rumpun tujuan Pemerintah Kota Batam yang dijabarkan dari makna visi yang ingin dicapai dan terukur untuk masa depan. Namun misi dapat dikaji ulang secara berkala disesuaikan dengan dinamika. Untuk tahun 2012-2016, dirumuskan 5 (lima) pernyataan misi sebagai berikut:

  1. Mensukseskan misi pemerintah untuk mengembangkan Kota Batam sebagai Bandar Modern berskala internasional sebagai kawasan investasi dilengkapi dengan fasilitas pusat perdagangan, kawasan industri besar, menengah kecil, koperasi, usaha rumah tangga, industri pariwisata, pusat perbelanjaan dan kuliner, hiburan, pengelolaan sumberdaya kelautan melalui kerjasama dengan Pengelola Kawasan dan pemangku kepentingan pembangunan lainnya.

  1. Mengembangkan sistem pendukung strategis penataan ruang terpadu meliputi komponen fasilitas sarana dan prasarana sistem transportasi darat laut dan udara yang memadai, sistem telekomunikasi dan teknologi informasi (ICT) modern dan prima, ekosistem hutan kota, penataan lingkungan kota yang bersih, sehat, aman, nyaman dan lestari.

  1. Meningkatkan pelayanan prima dalam hal pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak dan terjangkau, ketenagakerjaan, sosial budaya, fasilitasi keimanan dan ketaqwaan, kepemudaan dan olahraga agar kualitas hidup manusia dan kecerdasan seluruh lapisan masyarakat meningkat serta pengentasan kemiskinan.

  1. Menumbuhsuburkan kehidupan harmonis dan berbudi pekerti atas dasar nilai multi etnis, multi kultur, multi agama dan melestarikan nilai-nilai seni budaya melayu, kearifan lokal dan memelihara kelestarian lingkungan hidup.

  1. Mewujudkan pelaksanaan pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa.

Untuk melaksanakan visi dan misi kepala daerah terpilih tersebut selanjutnya dituangkan dalam program-program pembangunan daerah dimana, Dinas Tenaga Kerja dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Batam Tahun 2011-2016 termasuk dalam misi ke 3 (tiga) yaitu, Meningkatkan pelayanan prima dalam hal pendidikan,kesehatan, perumahan yang layak dan terjangkau, ketenagakerjaan, social budaya, sarana ibadah, kepemudaan dan olahraga agar kualitas hidup manusia dan kecerdasan seluruh lapisan masyarakat meningkat serta pengentasan kemiskinan. Dan Misi 5 ( lima) Yaitu : Mewujudkan pelaksanaan pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa.

Dimana dalam misi ketiga RPJMD Kota Batam Tahun 2011 – 2016 terdiri dari 17 (tujuh belas) program kegiatan yaitu :

  1. Program Pendidikan Anak Usia Dini, non Formal dan Pembinaan Kesiswaananaan,

  2. Program Peningkatan Ketersediaan dan Keterjangkauan Pelayanan Pendidikan Dasar dan Menengah.

  3. Program Peningkatan Mutu dan Manajeman Pelayanan Pendidikan.

  4. Program Promosi kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat serta Standirisasi Pelayanan Kesehatan.

  5. Program Pengadaan,Peningkatan dan Perbaikan sarana dan Prasarana Kesehatan.

  6. Program Upaya Kesehatan dan Perbaikan Gizi Masyarakat serta pencegahan dan Penaggulangan Penyakit.

  7. Program Pengadaan obat, Pengawasan obat dan makanan serta Perbekalan Kesehatan.

  8. Program Pembangunan , Pemeliharaan dan Pengembangan Infrastrktur Sarana dan Prasarana Pemukiman dan Perumahan.

  9. Program Pembangunan, Peningkatan kualitas dan Pengawasan Bangunan.

  10. Program Pengelolaan dan Peningkatan Utilitas Perkotaan.

  11. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak serta Pengarasutamaan Gender.

  12. Program Peningkatan Kesejahteraan Keluarga dan Penanggulangan Narkoba, PMS serta HIV/AIDS.

  13. Program Penanggulangan Kemiskinan dan Penanganan Masalah-Masalah Sosial

  14. Program Peningkatan Pembinaan,Pengawasan dan Perlindungan Ketenagakerjaan.

  15. Program Peningkatan Kualitas, Produktivitas Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja.

  16. Program Peningkatan, Pembinaan dan Pelayannan Kepemudaan dan Olahraga

  17. Program Pengembangan Budaya baca dan Pembinaan Peropustakaan.

Dalam Misi ke lima RPJMD Kota Batam Tahun 2011 – 2016 terdiri dari 15 (lima belas) program kegiatan yaitu :

  1. Program Perencanaan, pengendalian dan Evaluasi Pembangunan

  2. Program Penelitian dan Pengembangan Daerah

  3. Program Pengembangan data/informasi/statistic Daerah

  4. Program Pengembangan Partisipasi dan Budaya Polotik

  5. Program Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan lingkungan Masyarakat serta Penanggulangan Bencana Alam

  6. Program Pegembangan Wawasan Kebangsaan

  7. Program Peningkatan Kualitas Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan Kepala Dearah.

  8. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

  9. Program Penataan Kelembagaan dan Ketatalaksanaan

  10. Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah

  11. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah

  12. Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan

  13. Program Peningkatan Pelayanan Keuangan Daerah

  14. Program Pembangunan, Peningkatan dan Pengadaan Fasilitas Sarana dan Prasarana Perkantoran Pemerintah

  15. Program Kualitas Sumber daya Aparatur

Program-program pembangunan daerah tesebut dijabarkan dalam pelaksanaan oleh masing-masing SKPD , dimana Dinas Tenaga Kerja Kota Batam melaksanakan program kegiatan yaitu :

  1. Program Peningkatan Kualitas,Produktivitas Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja.

  2. Program Peningkatan Pembinaan, Pengawasan dan Perlindungan Ketenagakerjaan

  3. Program Peningkatan Pelayanan Keuangan Daerah

  4. Program Pembangunan, Peningkatan dan Pengadaan Fasilitas Sarana dan Prasarana Perkantoran Pemerintah

  5. Program Kualitas Sumber Daya Aparatur

3.3 TELAAHAN RENSTRA K/L DAN RENSTRA PROPINSI/KAB/KOTA

Dalam RPJMD Kota Batam Tahun 2011-2016, Dinas Tenaga Kerja Kota Batam termasuk dalam

Misi ke 3 dari RPJMD Kota Batam yaitu :

Meningkatkan pelayanan prima dalam hal pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak dan terjangkau, ketenagakerjaan, sosial budaya, sarana ibadah, kepudaan dan olahraga agar kualitas hidup manuasia dan kecerdasan seluruh lapisan masyakat meningkat serta pengentasan kemiskinan.

Tujuan ke 2 yaitu :

Meningkatkan pelayanan ketenagakerjaan secara luas bagi masyarakat.

Sasarannya yaitu :

  1. Tersedianya lapangan kerja Baru.
  2. Berkurangnya Kecelakaan kerja.

  3. Terciptanya hubungan industrial dan fasilitas pekerja yang baik.

  4. Tersedianya Regulasi Daerah di bidang ketenagakerjaan.

Rentra K/L dan Rentra propinsi sudah sejalan dengan Rentra Kota Batam,dimana faktor penghambat dan pendorong dari pelayanan SKPD sangat mempengaruhi permasalahan pada pelayanna SKPD .

Batam yang tidak mempunyai BLK aturan dari Kementrian dana yang menjadi pendapatan negara bukan pajak hanya bisa turun ke Daerah yang punya BLK, sungguh Ironis rasanya batam sebagai Daerah Free Trade Zone dan Daerah Industri dengan penghasilan dari iuran wajib tenaga kerja Asing, tapi tidak bisa menikmati Dana Pengembangan Keahlian dan Ketrampilan ( DPKK ).

Batam tidak dapat lagi Dana Dekonsentrasi Program untuk meningkatkan ketrampilan dan pelatihan tenaga kerja, sejak tahun 2010, semua dipusatkan di Propinsi Kepri yang punya BLK .Inilah kewajiban Pemerinta Kota Batam untuk menghadirkan BLK.

Dana APBD Kota Batam tidak akan sanggup untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimum bidang ketenagakerjaan yang telah ditetapkan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER.04/MEN/IV/2011 tentang Perubahan atas lampiran Peraturan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER.15/MEN/X/2010 Tentang Pelayanan Minimum bidang ketenagakerjaan dengan batas waktu 2016 untuk jenis Pelayanan Pelatihan Kerja. Ada 3 ( tiga )Indikator yakni :

– Besaran Tenaga Kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi

– Besaran Tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis masyarakat

– Besaran tenaga kerja yang mendapat pelatihan kewirausahaan

3.4 TELAAHAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

Bab ini disusun dengan maksud menguraikan gambaran umum tentang kondisi umum daerah masa kini , dengan memberikan perhatian utama pada bidang Ketenagakerjaan yang akan diintervensi melalui kebijakan dan program pembangunan selama lima tahun kedepan. Keterkaitan kondisi Kota Batam dengan perencanaan pembangunan ketenagakerjaan sangatlah berkaitan, dan pada Bab ini akan digambarkan bahwa KotaBatam secarageografis mempunyailetakyangsangatstrategis,yaitudi jalurpelayaranduniainternasional.KotaBatamberdasarkanPeraturanDaerahNomor2Tahun 2004tentang RencanaTataRuang WilayahKotaBatamTahun20042014,terletakantara:

0o.2529LU1o1500LU

103o.3435BT104o2604BT

Berdasarkan RTRWKotaBatam 20042014, LuaswilayahKotaBatamseluas3.990,00Km2, terdiridariluaswilayahdarat 1.040km2danluaswilayahlaut2.950km.KotaBatammeliputilebihdari400 (empatratus) pulau,329(tigaratusduapuluhsembilan)di

antaranyatelahbernama,termasukdidalamnya pulaupulau terluar di wilayahperbatasannegara, KotaBatamberbatasandengan:

SebelahUtara :SelatSingapura

SebelahSelatan:KecamatanSenayang

SebelahBarat :KecamatanKarimundan MoroKabupatenKarimun

SebelahTimur :KecamatanBintanUtara

TerbentuknyaPemerintah KotaBatamsebagaiinstitusiEksekutifyangmelaksanakan rodapemerintahan,pembangunan dankemasyarakatan,menjadiharapanuntukdapatmenjawabsetiappermasalahanmaupuntantangan yang munculsesuaidengan perkembanganSosialEkonomi,SosialBudaya,Politikdanlainnyadalammasyarakat.

PemerintahKotamadyaBatam dibentuk berdasarkanPeraturan Pemerintah No.34 Tahun 1983 dan diresmikanpada tanggal24 Desember1983 yangbersifat Administratif dipimpin oleh WalikotayangberkedudukansetingkatdenganKabupaten/KotamadyaDaerah tingkat II lainnya.

KeberadaanKotamadyaBatam adalah merupakanImplementasiatasdasar dekonsentrasisebagaimana dimaksuddalam UndangUndangNo.5Tahun 1974tentangPokokpokokPemerintahandidaerah.Motivasi dibentuknyaKotamadyaBatamadalahdalam rangkapeningkatanpelayananmasyarakatdan pembangunanWilayahtersebutsebagaiakibat berkembangnyadaerahPulauBatamuntuk menjadi daerahIndustri,Perdagangan, Alih kapaldanPariwisata.

Oleh sebab itu dengan adanya peningkatan status KecamatanBatamyang dulunyatermasukwilayahKabupatenDaerahTingkatIIKepulauanRiaumenjadi wilayah tersendiridalambentukPemerintahan Kotamadya AdministrasiBatam,yangterdiri atas3(tiga)Kecamatan.

Denganberlakunya Peraturan DaerahKota BatamNomor 2 Tahun 2005 tentangPemekaranPerubahandanPembentukanKecamatandanKelurahanDalamDaerahKotaBatam, sehinggajumlahkecamatan diKota Batamberubahmenjadi12kecamatan dan 64 Kelurahan.

SejakPulauBatamdanbeberapapulau disekitarnyadikembangkanolehPemerintah RepublikIndonesiamanjadidaerahIndustri, Perdagangan,AlihkapaldanPariwisataserta dengan terbentuknya Kotamadya Batam tanggal24 Desember1983,lajupertumbuhan penduduk terus mengalami peningkatan dimanadarihasilsensuspendudukrata-ratapertahunnyaselamaperiode20002010laju pertumbuhan penduduk Batam rata-ratasebesar8,1persen.

Penduduk Kota Batam berdasarkan DataSIAKpadatahun2009tercatatsebesar988.555jiwaterdiriatas506.758jiwalakilaki dan481.797jiwa perempuandengansexratio105,18.PendudukKotaBatamsampaidengan Januari 2011 berjumlah1.064.762jiwa,darijumlahpenduduktersebuttersebardiduabelas kecamatandan64kelurahan. Hanyapenyebarannyatidakmeratasehingga mengakibatkankepadatanpendudukperKm2di daerahinibervariasi.

Pemerintah dituntut untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada setiap stakeholdernya. Efisiensi dalam pelayanan menjadi modal utama, namun hal ini tampaknya masih perlu banyak pembenahan dan pembinaan, ragam layanan yang diberikan pemerintah masih belum memenuhi harapan, pelayanan bidang ketenagakerjaan memerlukan tenaga kerja yang profesional sesuai bidangnya, dimana fungsi mediator, fungsi hubungan industrial dan fungsi pengawasan , merupakan tiga fungsi yang tidak dapat dipisahkan. untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat.

Secara umum tenaga kerja menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dapat diartikan ”setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa , baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”

Untuk mendapatkan perkerjaan orang harus mempunyai pendidikan, ketrampilan untuk memenuhi lowongan yang tersedia di perusahaan.

Kondisi demikian diindikasikan dengan berbagai keluhan masyarakat terhadap kinerja birokrasi secara kelembagaan seperti :

a. Rendahnya kepuasan masyarakat terhadap pelayanan birokrasi.

b. Kurang berdayanya regulasi ketenagakerjaan sebagai mekanisme pengaturan. Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan ( termasuk norma, standard dan prosedur teknis pelaksanaannya )

c. Dinas Tenaga Kerja bertanggung jawab terhadap pola-pola ketenagakerjaan kepada buruh, buruh hanya pandainya berdemo saja ,padahal ada tahapan-tahapan yang dilaksanakan di Bipartit.

Dengan demikian Dinas Tenaga kerja Kota Batam dituntut untuk menyikapi kondisi diatas dan dapat menjawab permasalahan yang ada agar Dinas Tenaga Kerja Kota Batam dapat terus menyelenggarakan misinya untuk memenuhi harapan stakeholder dan masyarakat.

3.5 PENENTUAN ISU-ISU STRATEGIS

LINGKUNGAN STRATEGIS YANG BERPENGARUH

Untuk lebih memfokuskan strategis Dinas Tenaga Kerja Kota Batam dalam pencapaian visi dan misi secara efektif dan efisien, diperlukan analisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dengan menghitung nilai-nilai yang berkembang dalam organisasi serta situasi dan kondisi.

Analisis terhadap lingkungan internal dan eksternal organisasi merupakan hal yang sangat penting, dalam rangka menentukan faktor-faktor kunci sebagai penentu keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Lingkungan internal organisasi dan lingkungan eksternal organisasi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja organisasi, lingkungan internal pada umumnya dapat dikendalikan secara langsung, sedangkan lingkungan eksternal cenderung diluar kendali.

Dalam merumuskan lingkungan strategis tersebut sebagai faktor penentu keberhasilan ( Critical Success Factor / CSF ). Dinas Tenaga Kerja Kota Batam menggunakan metode atau teknik analisis SWOT ( Strengths, Weaknesses, Oppotunities and Threats ) atau analisis faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamansebagai berikut :

ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL

Kekuatan ( Strengths ) :

      1. Semakin besarnya kepedulian pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja melalui kebijakan UMK .

      2. Komitmen dan konsistensi pimpinan organisasi untuk bekerja normatif dan taat aturan dan adanya rasa kebersamaan dan loyalitas terhadap atasan dan antar sesama pegawai .

      3. Semakin tingginya minat pegawai dalam peningkatan kualitas diri, melalui diklat fungsional .

      4. Tersedianya sarana dan prasarana perkantoran dalam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat dibidang ketenagakerjaan.

      5. Dukungan perangkat organisasi yang solid.

      6. Adanya komitmen kerja yang kuat dari seluruh aparatur untuk melaksanakan tupoksi.

Kelemahan ( Weaknesses ) :

        1. Belum tersedianya Balai latihan Kerja/ Gedung yang dapat menampung kegiatan pelatihan .

        2. Masih rendahnya kualitas SDM pencari kerja di kota Batam.

        3. Belum berfungsingnya pegawai fungsional dalam melaksanakan fungsi mediator, fungsi hubungan industrial dan fungsi pengawasan.

        4. Pola pembinaan aparat yang belum terorientasi pada peningkatan kinerja.

ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL

Peluang ( Opportunities ) :

  1. Letak geografis Kota Batam yang strategis serta dikembangkannya Batam sebagai daerah industri, perdagangan dan pariwisata mengakibatkan banyaknya Investasi ke Kota Batam sehingga membuka lapangan pekerjaan.

  2. Tingginya peran serta masyarakat terhadap pembangunan Kota Batam.

  3. Tingginya dukungan masyarakat dan media informasi terhadap pantauan kualitas pelayanan ketenagakerjaan.

  4. Percepatan pengembangan teknologi sebagai Digital Islands.

  5. Adanya komitmen yang kuat, menjadikan Kota Batam sebagai kota yang religius.

Ancaman ( Threats ) :

  1. Masih rendahnya kualitas SDM pencari kerja sehingga menjadi pertimbangan untuk program pendidikan link and match dengan kebutuhan pasar kerja.

  2. Kurangnya pemahaman terhadap undang-undang ketenagakerjaan.

  3. Terbatasnya sarana dan prasarana transportasi laut yang mempenguri SDM masyarakt yang tinggal di pulau-pulau.

  4. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tanpa diikuti penguatan pemerataan pendapatan masyarakat akan menimbulkan berbagai masalah sosial .

  5. Tingginya tingkat kriminalitas sebagai akibat kurangnya lapangan pekerjaan.

  6. Tenaga kerja Asing, implikasinya tenaga pendamping yang harus disiapkan belum teralisasi.

PERUMUSAN ASUMSI

Lingkungan Internal

Bobot

Rating

Score

Prioritas

KEKUATAN ( STRENGTH )

      • Semakin besarnya kepedulian pemerintah daerah dalam usaha peningkatan kejahteraan pekerja melalui kebijakan UMK

      • Komitmen dan konsistensi pimpinan organisasi untuk bekerja normative dan taat aturan dan adanya rasa kebersamaan dan loyalitas terhadap atasan dan antar sesama pegawai.

      • Semakin tingginya minat pegawai dalam peningkatan kualitas diri, melalui diklat fungsional .

      • Tersedianya sarana dan prasarana perkantoran dalam melaksanakan tugas bidang ketenagakerjaan.

      • Dukungan perangkat organisasi yang solid.

      • Adanya komitmen kerja yang kuat dari seluruh aparat untuk melaksanakan tupoksi.

9

10

5

6

8

12

4

5

1

2

3

6

36

50

5

12

18

72

III

II

VI

V

IV

I

KELEMAHAN ( WEAKNESS )

        • Belum tersedianya Balai Latihan kerja / gedung yang dapat menampung kegiatan pelatihan

        • Masih rendahnya kualitas SDM pencari kerja yang ada di kota Batam.

        • Pejabat Fungsional belum diberikan Pemerinta Kota batam, jadi bagian untuk menjalankan fungsi pengawasan secara baik

        • Diperlukan regulasi berdasarkan kondisi daerah melalui pembuatan peraturan daerah,untuk menjamin konsistensi pengawasan di bidang ketenagakerjaan.

        • Pembentukan Pengadilan Hubungan Industrial di Kota Batam sangatlah dibutuhkan, mengingat 80 % kasus yang masuk PHI berasal dari Kota batam yang padat Industri.

9

11

13

7

10

2

3

4

5

1

18

30

44

65

7

IV

III

II

I

V

100

Lingkungan Eksternal

Bobot

Rating

Score

Prioritas

PELUANG ( OPPORTUNITY )

        • Letak geografis Kota Batam yang strategis serta dikembangkannya Batam sebagai daerah industri, perdagangan dan pariwisata mengakibatkan banyak Investasi datang ke Kota Batam, sehingga membuka lapangan pekerjaan.

        • Adanya tuntutan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan, sehingga menuntut adanya peningkatan kinerja.

        • Tingginya dukungan masyarakat dan media informasi terhadap pemantauan kualitas pelayanan aparatur.

      • Adanya komitmen yang kuat, menjadikan kota Batam sebagai kota Religius.

15

12

13

10

4

2

3

1

60

24

29

10

I

III

II

IV

ANCAMAN ( THREATS )

  • Masih rendahnya kualitas SDM pencari kerja sehingga belum maksimalnya bersaing di pasar kerja..

  • Belum Adanya sangsi bagi perusahaan yang tidak melaporkan usahanya sesuai dengan Undang-Undang .

  • Kebijakan yang tidak konsisten dapat menimbulkan pengaruh terhadap kinerja aparatur.

  • Tingginya tingkat kliminalitas sebagai akibat tigginya biaya hidup di kota batam.

15

12

13

10

4

2

3

1

60

24

29

10

I

III

II

IV

100

Dari hasil identifikasi faktor lingkungan internal dan eksternal, maka dilakukan analisis dan pembobotan untuk masing-masing unsur guna menentukan strategi yang diperlukan dalam rangka pencapaian Visi dan Misi yang telah ditetapkan

INTERNAL

EKSTERNAL

KEKUATAN ( STRENGTH )

      • Semakin besarnya kepedulian pemerintah daerah dalam usaha peningkatan kesejahteraan pekerja melalui kebijakan Penetapan UMK.

      • Komitmen dan konsistensi pimpinan organisasi untuk bekerja normative dan taat aturan.

      • Semakin tingginya minat pegawai dalam peningkatan kualitas diri, melalui diklat fungsional maupun tugas dan izin belajar.

      • Tersedianya sarana dan prasarana perkantoran dalam melaksanakan segala urusan di bidang ketenagakerjaan.

      • Dukungan perangkat organisasi yang solid.

      • Adanya komitmen kerja yang kuat dari seluruh aparat untuk melaksanakan tupoksi.

KELEMAHAN ( WEAKNESS )

        • Belum tersedianya sarana dan prasana / gedung BLKt yang dapat menampung kegiatan pelatihan.

        • Kapasitas Sumberdaya Manusia yang ada belum seluruhnya memenuhi tuntutan tugas dan belum seimbangnya sebaran beban kerja.

        • Koordinasi dengan instansi lain belum berjalan secara optimal.

        • Kurangnya tingkat kesadaran disiplin yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat.

        • Fungsi Pembinaan pegawai pengawas,pegawai mediator, yang belum berorientasikan pada peningkatan kinerja

PELUANG ( OPPORTUNITY )

STRATEGI S-O

STRATEGI W-O

        • Letak geografis Kota Batam yang strategis serta dikembangkannya Batam sebagai daerah industri, perdagangan dan pariwisata mengakibatkan banyaknya Investasi di Kota Batam yang membutuhkan kualitas dan pelayanan di bidang ketenagakerjaan.

        • Adanya tuntutan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan, sehingga menuntut adanya peningkatan kinerja.

        • Tingginya dukungan masyarakat dan media informasi terhadap pemantauan kualitas pelayanan aparatur.

        • Adanya komitmen yang kuat, menjadikan kota Batam sebagai kota Religius.

  • Membangun sistem pelayanan prima

  • Membangun komitmen seluruh aparatur dalam tupoksi untuk mewujudkan akuntabilitas.

  • Membangun komitmen seluruh aparatur untuk menjadikan Kota Batam sebagai kota Madani

  • Membangun mekanisme prosedur dan pola kerja yang efektif dan efisien untuk mewujudkan pelayanan prima.

  • Membuat perencanaan dan membangun sarana dan prasarana fasilitas BLK

  • Mengoptimalkan kerjasama antar instansi terkait pembinaan disiplin dan pelayanan yang profesional.

ANCAMAN ( THREATS )

STRATEGI S-T

STRATEGI W-T

  • Masih rendahnya kualitas SDM pencari kerja sehingga belum maksimal bersaing di pasar kerja..

  • Belum Adanya sangsi bagi perusahaan yang tidak melaporkan usahanya sesuai dengan undang-undang.

  • Kebijakan yang tidak konsisten dapat menimbulkan pengaruh terhadap kinerja aparatur.

  • Tingginnya tingkat kriminalitas sebagai akibat tingginya biaya hidup di kota Batam.

  • Meningkatkan kualitas pencari kerja melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan bersertifikasi.

  • Menerapkan aturan ketenagakerjaan dengan konsisten.

  • Meningkatkan komitmen dan kinerja aparatur.

  • Menambah jumlah pegawai mediator sesuai dengan kebutuhan organisasi .

  • Menerapkan pola kerja dan pola pembinaan yang serasi dan berjenjang sesuai dengan potensi.

  • Menerapkan sistem beban kerja yang seimbang.

Strategi yang akan ditempuh merupakan paduan antara faktor kekuatan yang dimiliki dengan mereduksi faktor kelemahan yang ada dan menghindari segala macam ancaman yang akan dihadapi oleh organisasi, strategis tersebut sebagaimana disajikan pada tabel berikut :

 

INTERNAL

EKSTERNAL

KEKUATAN ( STRENGTH )

      • Semakin besarnya kepedulian pemerintah daerah dalam usaha peningkatan kesejahteraan pekerja melalui kebijakan Penetapan UMK.

      • Komitmen dan konsistensi pimpinan organisasi untuk bekerja normative dan taat aturan.

      • Semakin tingginya minat pegawai dalam peningkatan kualitas diri, melalui diklat fungsional maupun tugas dan izin belajar.

      • Tersedianya sarana dan prasarana perkantoran dalam melaksanakan segala urusan di bidang ketenagakerjaan.

      • Dukungan perangkat organisasi yang solid.

      • Adanya komitmen kerja yang kuat dari seluruh aparat untuk melaksanakan tupoksi.

KELEMAHAN ( WEAKNESS )

        • Belum tersedianya sarana dan prasana / gedung BLKt yang dapat menampung kegiatan pelatihan.

        • Kapasitas Sumberdaya Manusia yang ada belum seluruhnya memenuhi tuntutan tugas dan belum seimbangnya sebaran beban kerja.

        • Koordinasi dengan instansi lain belum berjalan secara optimal.

        • Kurangnya tingkat kesadaran disiplin yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat.

        • Fungsi Pembinaan pegawai pengawas,pegawai mediator, yang belum berorientasikan pada peningkatan kinerja

PELUANG ( OPPORTUNITY )

STRATEGI S-O

STRATEGI W-O

        • Letak geografis Kota Batam yang strategis serta dikembangkannya Batam sebagai daerah industri, perdagangan dan pariwisata mengakibatkan banyaknya Investasi di Kota Batam yang membutuhkan kualitas dan pelayanan di bidang ketenagakerjaan.

        • Adanya tuntutan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan, sehingga menuntut adanya peningkatan kinerja.

        • Tingginya dukungan masyarakat dan media informasi terhadap pemantauan kualitas pelayanan aparatur.

        • Adanya komitmen yang kuat, menjadikan kota Batam sebagai kota Religius.

  • Membangun sistem pelayanan prima

  • Membangun komitmen seluruh aparatur dalam tupoksi untuk mewujudkan akuntabilitas.

  • Membangun komitmen seluruh aparatur untuk menjadikan Kota Batam sebagai kota Madani

  • Membangun mekanisme prosedur dan pola kerja yang efektif dan efisien untuk mewujudkan pelayanan prima.

  • Membuat perencanaan dan membangun sarana dan prasarana fasilitas BLK

  • Mengoptimalkan kerjasama antar instansi terkait pembinaan disiplin dan pelayanan yang profesional.

ANCAMAN ( THREATS )

STRATEGI S-T

STRATEGI W-T

  • Masih rendahnya kualitas SDM pencari kerja sehingga belum maksimal bersaing di pasar kerja..

  • Belum Adanya sangsi bagi perusahaan yang tidak melaporkan usahanya sesuai dengan undang-undang.

  • Kebijakan yang tidak konsisten dapat menimbulkan pengaruh terhadap kinerja aparatur.

  • Tingginnya tingkat kriminalitas sebagai akibat tingginya biaya hidup di kota Batam.

  • Meningkatkan kualitas pencari kerja melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan bersertifikasi.

  • Menerapkan aturan ketenagakerjaan dengan konsisten.

  • Meningkatkan komitmen dan kinerja aparatur.

  • Menambah jumlah pegawai mediator sesuai dengan kebutuhan organisasi .

  • Menerapkan pola kerja dan pola pembinaan yang serasi dan berjenjang sesuai dengan potensi.

  • Menerapkan sistem beban kerja yang seimbang.

 

Analisis SWOT untuk Analisis Strategis Alternatif dan Pilihan

Strategi alternatif pilihan berdasarkan asumsi dan informasi lain yang telah dikembangkan sebelumnya, analisis strategi dan pilihan melalui anaisis SWOT, akan ditemukan strategi alternatif ( SO, WO, ST dan WT ) sebagai berikut :

A. Strategi S-O

  • Membangun sistem pelayanan prima di bidang ketenagakerjaan

  • Membangun komitmen seluruh aparatur dalam tupoksi untuk mewujudkan akuntabilitas.

  • Membangun komitmen seluruh aparatur untuk menjadikan Kota Batam sebagai kota Madani

B. Strategi W-O

  • Membangun mekanisme prosedur dan pola kerja yang efektif dan efisien untuk mewujudkan pelayanan prima kepada masyarakat.

  • Membuat perencanaan dan membangun sarana dan prasarana fasilitas /gedung BLK

  • Mengoptimalkan kerjasama antar instansi terkait pembinaan disiplin dan pelayanan yang profesional

C. Strategi S-T

  • Meningkatkan kualitas pelayanan pencari kerja melalui peningkatan kualifikasi pendidikan dan pelatihan bersertifikasi.

  • Menerapkan aturan ketenagakerjaan dengan konsisten.

  • Meningkatkan komitmen dan kinerja aparatur.

D. Strategi W-T

  • Menambah jumlah pegawai mediator yang sesuai dengan kebutuhan organisasi .

  • Meningkat pembinaan dan pengawasan di perusahaan sesuai dengan potensi.

  • Menerapkan sistem beban kerja yang seimbang.

ANALISIS FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN

Untuk memberi fokus dan memperkuat rencana untuk memperjelas hubungan antara Visi, Misi dan Tujuan, disusun faktor-faktor penentu keberhasilan (Critical Success Factor) yang dikembangkan dari strategi alternatif didapatkan hasil sebagai berikut :

    1. Penempatan pencari kerja sesuai kebutuhan/lowongan yang ada

    2. Meningkatkan kualitas pencari kerja melalui peningkatan kualifikasi pendidikan dan pelatihan bersertifikasi.

    3. Terciptanya hubungan Industrial yang harmonis di perusahaananan

    4. Terlaksananya Pembinaan dan Pengawasan di Perusahaan.

    5. Terlaksananya penegakan hukum di perusahaan.

    6. Adanya peran serta masyarakat dalam melakukan kontrol sosial terhadap kinerja aparat pemerintah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *